Faktara.my.id | Jakarta – Timnas Indonesia kembali gagal meraih gelar Piala AFF 2026. Setelah tiga dekade mengikuti turnamen sepak bola Asia Tenggara, Skuad Garuda belum sekali pun mengangkat trofi juara. Kegagalan demi kegagalan terus berulang meski Indonesia telah mencoba berbagai pendekatan untuk membangun tim terbaik.
Timnas Indonesia memang mencatat sejumlah perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Skuad Garuda mampu memperbaiki posisi di ranking FIFA dan menembus fase lebih jauh dalam kualifikasi Piala Dunia.
Namun, pencapaian tersebut belum berujung pada trofi. Indonesia kembali gagal memenuhi target juara Piala AFF 2026 setelah hanya mampu melaju hingga fase grup.
Indonesia sebelumnya sempat mengalahkan Kamboja dan Timor Leste. Namun, langkah Garuda terhenti setelah menghadapi Vietnam dan Singapura.
Dekat dengan Gelar, tetapi Selalu Gagal
Indonesia sebenarnya beberapa kali berada sangat dekat dengan gelar Piala AFF. Pada edisi 2000 dan 2002, Garuda mencapai partai final saat pertandingan perebutan juara masih berlangsung dalam satu leg.
Setelah final menggunakan sistem dua leg, Indonesia kembali empat kali mencapai partai puncak. Namun, seluruh kesempatan tersebut berakhir tanpa trofi.
Kondisi itu membuat impian Indonesia menjadi raja Asia Tenggara terus tertunda. Julukan “King Indo” pun belum memiliki makna nyata karena Garuda belum mampu membuktikannya dengan gelar.
Naturalisasi Belum Jadi Solusi
Indonesia juga telah mencoba berbagai strategi untuk meningkatkan kualitas tim nasional. Federasi mendatangkan pelatih asing dan memperkuat skuad dengan pemain naturalisasi yang memiliki pengalaman bermain di Eropa.
Namun, strategi tersebut belum menghasilkan gelar Piala AFF. Sementara itu, Singapura dan Vietnam pernah memanfaatkan pemain naturalisasi untuk membantu mereka meraih kesuksesan di level Asia Tenggara.
Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa naturalisasi bukan satu-satunya formula untuk membangun tim juara. Indonesia tetap membutuhkan kompetisi domestik yang kuat untuk menghasilkan pemain berkualitas secara berkelanjutan.
Gelar Tidak Datang dari Lawan yang Lemah
Keinginan meraih trofi tentu tidak cukup dengan mencari lawan yang memiliki peringkat FIFA lebih rendah. Tim yang ingin menjadi juara harus mampu mengalahkan lawan-lawan terbaik dalam kompetisi.
Spanyol, misalnya, membuktikan kualitasnya dengan meraih gelar Piala Dunia setelah mengalahkan Argentina di partai final. Gelar bergengsi lahir dari kemenangan atas tim kuat, bukan sekadar dari hasil menghadapi tim dengan peringkat rendah.
Piala AFF memang memiliki level berbeda dibandingkan Piala Asia atau Piala Dunia. Namun, bagi Indonesia, trofi turnamen regional tetap menjadi ukuran penting karena Garuda belum pernah meraihnya sejak mengikuti kompetisi tersebut pada 1996.
Kegagalan Indonesia di Piala AFF 2026 kembali memperpanjang penantian gelar selama 30 tahun. Berbagai pelatih, generasi pemain, strategi, hingga kebijakan naturalisasi belum mampu membawa Garuda menjadi juara.
Indonesia kini membutuhkan evaluasi menyeluruh, bukan sekadar pergantian pelatih atau pemain. Penguatan kompetisi domestik, pembinaan usia muda, pengembangan talenta lokal, serta strategi tim nasional yang berkelanjutan menjadi pekerjaan besar jika Garuda ingin mengakhiri penantian panjang tersebut.
(Rls/Fajar Siddiq)
