Faktara.my.id | Jakarta Timur – Slogan “pelayanan publik yang dekat dengan masyarakat” tampaknya diterjemahkan terlalu kreatif di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Bagaimana tidak? Hanya selangkah dari Kantor Kecamatan Duren Sawit, berdiri sebuah “fasilitas umum non-resmi” yang menyajikan kehangatan hakiki bagi para pemburu malam.
Sebuah toko kelontong yang merangkap sebagai agen rahasia penyelamat dahaga akan minuman keras (miras).
Sungguh sebuah pemandangan yang miris sekaligus mengundang tawa getir, sementara para pejabat kecamatan sibuk merumuskan ketertiban umum dan membahas Peraturan Daerah (Perda) di dalam ruangan ber-AC. Hanya beberapa meter di luar pagar mereka, transaksi botol-botol beralkohol tinggi berjalan mulus tanpa hambatan, rapi berkedok jualan kopi saset dan mi instan.
Warga sekitarpun geram akan hadir nya warung tersebut karna di nilai meresahkan warga sekitar dan merusak generasi muda, seorang warga yang enggan menyebutkan namanya menyampaikan keluh kesahnya kepada awak media Faktara.my.id saat di temui di sekitar lokasi warung tersebut.
“Sering juga lihat anak sekolah SMA masuk ke warung itu tapi kluar nenteng plastik hitam pake sedotan” Katanya sambil menunjuk ke arah warung tersebut.
“Sudah pernah di tegur juga tapi sampai saat ini masih tetap beroperasi itu warung” tambahnya.
Kedok Sederhana, Omzet Luar Biasa
Jika dilihat dari luar, toko ini tampak suci tanpa dosa, dari etalasenya terpajang rentengan kopi, rokok, beras dan camilan anak-anak. Namun, layaknya film spionase, warung ini punya plot twist bagi konsumen yang paham kata kuncinya.
Beli Kopi Dapat Miras: Cukup dengan bisikan halus, botol-botol minuman siap meluncur ke dalam kantong plastik hitam.
Kreativitas tanpa batas ini berhasil mengelabui… atau mungkin sengaja tidak terlihat?
Menantang Hukum di Bawah Hidung Aparat
Keberadaan penjual miras berkedok toko kelontong ini seperti sebuah tamparan keras bagi penegakan hukum di tingkat lokal. Bagaimana mungkin sebuah usaha ilegal yang merusak generasi muda bisa beroperasi begitu tenang, tepat di samping pusat pemerintahan kecamatan?
Ada beberapa asumsi liar yang beredar di kalangan warga:
Aparat Kurang Tidur: Saking sibuknya mengurus administrasi warga, mata para petugas tidak sempat menengok ke sebelah barat atau timur pagar kantornya sendiri.
Kamuflase Sempurna: Mungkin kedok warung tersebut terlalu jenius, hingga tumpukan krat miras di belakang warung disangka sebagai dekorasi estetik ramah lingkungan.
Efek “Dekat Pusat Keamanan”
Tempat paling aman untuk menyembunyikan kejahatan adalah tepat di depan hidung penegak hukum.
Dan warung ini mempraktikkan teori itu dengan sangat sempurna.
Menunggu “Sidak” atau Menunggu Viral?
Warga sekitar sebenarnya sudah sering mengelus dada melihat pemuda-pemuda tanggung yang asyik nongkrong sambil sempoyongan di sekitar area tersebut pada malam hari. Ironisnya, lokasi tersebut seharusnya steril dari penyakit masyarakat.
Masyarakat kini hanya bisa menunggu apakah pihak Kecamatan Duren Sawit dan Satpol PP setempat perlu memesan Google Maps terlebih dahulu untuk menemukan warung yang hanya berjarak beberapa meter dari gerbang mereka atau apakah aparat baru akan bergerak setelah tempat ini viral di media sosial dengan yang mempermalukan kinerja mereka?
Kita tunggu saja, kapan “kehangatan” di samping kantor kecamatan ini akan mendingin setelah digulung petugas itu pun kalau mereka tidak mendadak amnesia saat melewati warung tersebut.
Warta : M Lukman
