Faktara.my.id | Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan proyek perpanjangan KRL Cikarang-Cikampek akan dipercepat untuk meningkatkan kapasitas layanan kereta rel listrik (KRL), memangkas waktu tempuh perjalanan, serta memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat di wilayah Jabodetabek, Rabu (1/7/2026).
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Allan Tandiono, mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait percepatan elektrifikasi jalur Cikarang hingga Cikampek.
“Mengenai perpanjangan KRL Jabodetabek Cikarang menuju Cikampek, elektrifikasi ini kami sudah diskusi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI),” kata Allan Tandiono.
Menurut Allan, sejumlah langkah percepatan tengah disiapkan bersama PT KAI, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara).
“Kita akan percepat segala sesuatu,” ujarnya.
Allan menjelaskan percepatan proyek dilakukan karena tingginya permintaan masyarakat terhadap layanan KRL Jabodetabek yang lebih cepat, nyaman, dan terintegrasi hingga Cikampek.
Saat ini operasional KRL masih berakhir di Stasiun Cikarang. Jalur Cikarang-Karawang hingga Karawang-Cikampek belum memiliki infrastruktur elektrifikasi sehingga belum dapat dilayani kereta rel listrik.
Apabila proyek elektrifikasi rampung, masyarakat di Karawang dan Cikampek dapat menikmati perjalanan KRL langsung menuju Jakarta tanpa harus berganti moda transportasi. Langkah tersebut diharapkan memangkas waktu tempuh sekaligus meningkatkan kenyamanan perjalanan harian para komuter.
“Kita akan dorong karena memang banyak masyarakat sekitar yang meminta pelayanan ini, karena diharapkan dengan adanya elektrifikasi dengan kereta rel listrik waktu tempuh dari rumah di sekitaran sana menuju tengah Kota Jakarta akan lebih cepat,” kata Allan.
Selain mempercepat proyek KRL Cikarang-Cikampek, pemerintah juga meningkatkan sistem elektrifikasi pada Green Line Tanah Abang-Rangkasbitung. Upaya tersebut dilakukan untuk mengatasi kepadatan penumpang yang terus meningkat, terutama pada jam sibuk.
Menurut Allan, tingkat okupansi pada lintas tersebut bahkan telah melampaui kapasitas ideal.
“Seperti yang disampaikan oleh KAI, jam sibuk itu bahkan kapasitasnya (yang terisi) sampai 161%. Jadi ini memang isu yang perlu segera kita carikan solusinya,” ujarnya.
Peningkatan sistem traksi listrik akan memungkinkan pengoperasian rangkaian KRL yang lebih panjang sehingga daya angkut penumpang meningkat secara signifikan pada jam-jam padat.
Kemenhub juga mempercepat pembangunan double-double track (DDT) untuk memisahkan jalur kereta jarak jauh dengan jalur KRL. Pemisahan lintasan tersebut diharapkan membuat perjalanan kereta menjadi lebih lancar, aman, dan tepat waktu.
Selain meningkatkan keandalan operasional perkeretaapian nasional, pembangunan DDT juga akan mendukung pengembangan layanan KRL hingga Cikampek tanpa mengganggu perjalanan kereta antarkota yang menggunakan lintasan yang sama.
Dengan percepatan elektrifikasi dan pembangunan infrastruktur pendukung, pemerintah berharap layanan KRL Cikarang-Cikampek dapat segera terealisasi sehingga mampu menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat di kawasan timur Jabodetabek.
(Tim/Red)
