Faktara.my.id | Jakarta – Belasan orang menjadi korban penipuan berkedok lowongan kerja di Penggilingan Jakarta Timur. Mereka diminta membayar uang mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah dengan dijanjikan bekerja sebagai security di PT. KAI & TransJakarta.
Darmanto, salah satu korban mengatakan, pelaku berinisial AKML alias Jo menawarkan lowongan pekerjaan sebagai Security di PT. KAI jurusan Yogyakarta – Jakarta & Cleaning Service lalu meminta uang sebanyak 700 ribu rupiah sebagai administrasi awal dan menjanjikan pasti akan langsung diterima bekerja.
“Kita saling kenal karena saya menyewa lapak miliknya untuk memarkirkan kendaraan Bajaj saya, lalu kemudian AKML menawarkan kerja jadi security dengan sangat meyakinkan. Karena saya lihat dia juga orang berada dan punya banyak usaha, jadi saya percaya aja mas” jelas Darmanto kepada wartawan, (04/03/2026).
“Kebetulan pada saat itu saya habis jual bajaj, dan anak saya yang sulung butuh pekerjaan. Makanya karena sudah percaya saya kasih saja uangnya sebesar 700 ribu diawal, dan dia pun memberi arahan untuk mengurus segala macam perlengkapan lamaran kerjanya.” tambahnya.
Hal ini terus berlanjut sampai beberapa bulan, pelaku AKML selalu meminta tambahan uang secara perlahan dengan alasan mengurus berkas dan menunggu slot antrian. Hingga setelah dihitung oleh Darmanto totalnya mencapai 7 juta rupiah.
Di sisi lain, korban lainnya yang bernama Urip mendapatkan tawaran dari pelaku AKML untuk bekerja di TransJakarta mulai dari Security, Cleaning Service & Operator. Karena mendapatkan informasi tersebut Urip menyampaikannya ke Grup Whatsapp RT di lingkungannya, dan kemudian banyak yang ikut mendaftar juga.
“Awalnya saya kenal AKML karena sering mengantar Gas LPG ke warung Ibunya, lalu dia menawarkan lowongan di TransJakarta yang katanya lagi butuh banyak orang. Makanya saya langsung share ke Grup Whatsapp RT alhasil banyak yang ikut mendaftar” jelas Urip kepada wartawan saat dimintai keterangan, (04/03/2026).

Tidak main-main, pelaku AKML menggunakan surat kontrak palsu berlogo TransJakarta yang entah diperolehnya dari mana untuk melancatkan aksinya. Kemudian meminta uang sebesar 150 ribu – 350 ribu kepada belasan korban tersebut.
“Kita dikasih semacam surat kontrak kerja gitu, ada logo TransJakarta nya, terus dimintai uang ADM diawal. Karena meyakinkan, kita kasih aja.” tambah Urip, mewakili belasan korban lainnya.
Perlahan namun pasti, aksi pelaku terus berjalan sepanjang tahun 2025 dan terus menambah korban.
Sampai akhirnya para korban mulai resah dan sadar, lalu memutuskan ke rumah pelaku untuk meminta ganti rugi. Namun alih-alih mendapatkan pertanggung jawaban, justru keluarga pelaku diduga seakan menutup-nutupi keberadaannya.
Hingga berita ini diterbitkan, pelaku belum juga ditemukan dan kasus ini akan terus didampingi / dikawal langsung oleh para wartawan dari Faktara.my.id
(Tim/Red)
