Faktara.my.id | Cilacap – BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk bersiap menghadapi potensi kekeringan meteorologis pada dasarian III Agustus 2026. Seluruh wilayah Jateng berpeluang mengalami curah hujan rendah di bawah 50 milimeter per dasarian.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jateng Goeroeh Tjiptanto mengatakan peluang curah hujan rendah di seluruh wilayah Jawa Tengah mencapai lebih dari 90 persen berdasarkan pemutakhiran data per 17 Agustus 2026.
BMKG membagi peringatan dini kekeringan menjadi tiga kategori, yakni Awas, Siaga, dan Waspada.
14 Daerah Masuk Status Awas
Status Awas berlaku di Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri.
Menurut Goeroeh, status Awas menunjukkan kondisi paling kritis karena hujan tidak turun selama sedikitnya 61 hari berturut-turut. Kondisi ini dapat membuat tanah sangat kering dan mengancam ketersediaan air.
Sementara status Siaga mencakup Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Temanggung, Semarang, Boyolali, Sukoharjo, Kota Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Magelang.
Adapun Kota Tegal, Kota Pekalongan, dan Kota Surakarta masuk kategori Waspada.
BMKG Minta Masyarakat Hemat Air
BMKG mengimbau masyarakat menghemat air dan memprioritaskan penggunaannya untuk kebutuhan utama. Pemerintah daerah juga perlu menyiapkan distribusi air bersih secara rutin, khususnya di wilayah berstatus Awas.
Kekeringan juga berpotensi mengganggu sektor pertanian. Petani diimbau memilih tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering serta memperketat pengelolaan irigasi.
Selain krisis air, kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran lahan. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar dan tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Awal September Diprediksi Paling Kering
BMKG memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih mengalami curah hujan rendah 0-50 milimeter per dasarian hingga akhir September 2026.
Awal September dipetakan sebagai fase paling kering, sehingga masyarakat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak kekeringan.
Kondisi kekeringan juga dapat meningkatkan risiko dehidrasi, penyakit kulit, diare, dan gangguan pernapasan akibat keterbatasan air bersih serta paparan debu. BMKG meminta masyarakat menghemat air dan meningkatkan kewaspadaan selama periode kering berlangsung.
(Rls/Red)
