Faktara.my.id | Jakarta – Kualitas udara Jakarta pada Senin pagi masuk kategori tidak sehat. Berdasarkan data IQAir pukul 08.00 WIB, Jakarta mencatat indeks kualitas udara (AQI) 170 dan menempati peringkat kedua kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
PM2.5 Jakarta Capai 82 Mikrogram
IQAir mencatat polutan utama Jakarta berasal dari PM2.5 dengan konsentrasi 82 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok sensitif.
IQAir menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga yang harus beraktivitas di luar juga disarankan menggunakan masker dan menutup jendela rumah untuk mengurangi paparan udara tercemar.
Dalam pemantauan tersebut, Baghdad, Irak, menempati peringkat pertama dengan AQI 178. Setelah Jakarta, Dhaka, Bangladesh, berada di posisi ketiga dengan AQI 166, disusul Kuala Lumpur, Malaysia, 163, dan Ho Chi Minh City, Vietnam, 157.
Pemprov DKI Siapkan Sistem Peringatan Dini
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama BMKG juga menyiapkan sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS).
Sistem tersebut bertujuan memprediksi peningkatan polusi secara lebih akurat sehingga masyarakat dapat melakukan langkah pencegahan sebelum kualitas udara memburuk.
EWS terutama menyasar kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan.
Warga Diminta Kurangi Paparan Polusi
Informasi kualitas udara yang lebih akurat dapat membantu masyarakat membatasi aktivitas fisik di ruang terbuka, menggunakan masker dan mengurangi paparan polusi ketika kualitas udara memburuk.
Kondisi udara Jakarta yang masuk kategori tidak sehat menunjukkan pentingnya pemantauan kualitas udara secara rutin. Masyarakat perlu mengikuti informasi kualitas udara dan melakukan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko paparan polusi.
(Rls/Red)
