Faktara.my.id | Sukabumi – Kondisi objek wisata Situ Batu Karut kini berada di titik nadir. Destinasi yang seharusnya menjadi kebanggaan warga Sukabumi ini tampak seperti kawasan mati yang tak bertuan. Rabu, (25/03/2026).
Fasilitas publik hancur, sampah berserakan, hingga dugaan praktik pungutan liar (pungli) kini menghantui para pengunjung yang masih nekat datang.
Hasil pantauan awak media Faktara.my.id di lapangan menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan. Alih-alih mendapatkan kesegaran alam, pengunjung justru disuguhi pemandangan puing-puing tajam yang merusak estetika dan membahayakan keselamatan di sekitar danau.

Fasilitas Umum yang Menanti Ambruk
Akses dasar bagi wisatawan kini hampir tidak berfungsi. Berikut adalah daftar “dosa” pembiaran yang terjadi di Situ Batu Karut:
- Ruang Ganti & Pemandian: Kondisinya kotor, tidak terawat, dan berbau, membuat wisatawan enggan menggunakannya.
- Tempat Ibadah Terancam Roboh: Mushola yang seharusnya menjadi tempat nyaman untuk beribadah kini dalam kondisi kritis. Struktur bangunan yang rapuh dan tanpa renovasi membuatnya tinggal menunggu waktu untuk ambruk.
- Krisis Kebersihan: Tidak tersedianya bak sampah membuat limbah plastik berserakan, memperburuk ekosistem danau.
- Lingkungan Rusak: Hamparan rumput hijau yang menjadi daya tarik kini justru tertutup puing-puing tajam yang merusak vegetasi alami.
Ironi Pungli di Tengah Kerusakan
Meski fasilitas dalam keadaan rusak parah, para pengunjung masih dipaksa merogoh kocek berkali-kali. Dugaan pungli di pintu masuk dan keluar menjadi keluhan utama.
“Masuk bayar, keluar pun harus bayar. Tapi lihat sendiri kondisinya, tidak ada yang diurus. Uangnya lari ke mana? Kami merasa diperas tanpa ada timbal balik fasilitas,” ujar salah satu pengunjung yang kecewa.
Pemerintah Kota Sukabumi Dipertanyakan
Sikap diamnya Pemerintah Kota Sukabumi dalam menangani masalah ini memicu kritik pedas dari masyarakat. Publik menilai pemerintah seolah “tutup mata” terhadap potensi wisata yang hancur perlahan akibat ketiadaan alokasi anggaran renovasi yang jelas.
Jika dibiarkan tanpa tindakan nyata, Situ Batu Karut bukan lagi menjadi aset wisata, melainkan monumen kegagalan pengelolaan ruang publik.[]
(Muhammad Lukman)
