Faktara.my.id | Jakarta – Harga minyak dunia melemah setelah Israel dan Lebanon mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Kamis (4/6/2026). Kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak berjangka Brent pada pukul 11.58 WIB turun 0,89 persen menjadi 96,92 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bergerak di level 96,02 dollar AS per barel.
Menurut Reuters, penurunan harga minyak terjadi setelah Israel dan Lebanon mengumumkan gencatan senjata pada Rabu malam. Kesepakatan tersebut meningkatkan harapan pasar terhadap terciptanya stabilitas di kawasan Timur Tengah, termasuk peluang membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz.
“Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada hari Rabu mengatakan bahwa kontak Teheran dengan Washington belum terputus, tetapi belum ada kemajuan dalam negosiasi, dan menambahkan bahwa kedua belah pihak sedang mempelajari teks-teks yang telah dipertukarkan,” lapor Reuters.
Sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran. Mereka berupaya membatasi kewenangan presiden dalam melanjutkan operasi militer tanpa persetujuan Kongres serta mendorong penghentian keterlibatan militer AS di Timur Tengah.
Persediaan Minyak AS Turun
Amerika Serikat mencatat penurunan persediaan minyak mentah meski menjadi salah satu eksportir minyak terbesar di dunia.
“Persediaan minyak mentah AS turun 8 juta barel menjadi 433,7 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei,” lapor Reuters.
Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa persediaan minyak global telah mencapai level kritis. Lembaga tersebut menilai pemulihan pasokan akan tetap berlangsung lambat meski Selat Hormuz dibuka kembali.
“Persediaan telah memberikan bantalan bagi pasar minyak. Namun, meskipun kita melihat dimulainya kembali aliran minyak melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat, pemulihan akan lambat dan bertahap,” jelas IEA, Selasa.
“Hal ini menunjukkan bahwa persediaan kemungkinan akan terus menipis hingga kuartal ketiga, sehingga menyisakan risiko kenaikan harga,” tambahnya.
(Rls/Red)
