Faktara.my.id | Jakarta – Isu mahalnya tiket Piala Dunia 2026 kembali menjadi sorotan setelah laga perdana Kanada di Grup B tidak dipenuhi penonton. Sejumlah kursi di tribun terlihat kosong, memunculkan pertanyaan tentang dampak kebijakan harga tiket terhadap minat suporter.
Meski berstatus tuan rumah, Kanada belum mampu menarik kapasitas penuh penonton pada laga perdana Grup B. Lebih dari 1.000 tiket pertandingan melawan Bosnia-Herzegovina di BMO Field dilaporkan tidak laku terjual.
Menurut laporan Sports Illustrated, lebih dari 1.000 tiket pertandingan tersebut masih tersedia hingga beberapa jam sebelum kick-off. Padahal, laga itu menjadi pertandingan Piala Dunia pertama yang digelar di Kanada sebagai tuan rumah.
Sebagian besar tiket yang belum terjual berasal dari kategori 1 dan kategori 2 dengan harga berkisar 1.645 hingga 2.240 dolar AS atau sekitar Rp29,2 juta hingga Rp39,8 juta. Tingginya harga tiket membuat banyak pendukung Kanada memilih tidak hadir langsung di stadion untuk menyaksikan laga bersejarah tersebut.
Kontroversi mahalnya harga tiket Piala Dunia 2026 terus menjadi sorotan sejak sebelum turnamen dimulai. Kini, kekhawatiran tersebut mulai terbukti setelah sejumlah pertandingan memperlihatkan banyak kursi kosong di tribun stadion.
Salah satunya terlihat saat Korea Selatan menghadapi Republik Ceko di Estadio Akron, Guadalajara. Meski laga Grup A itu dihadiri 44.985 penonton, ratusan kursi kosong masih tampak di berbagai sudut stadion, memperkuat indikasi bahwa tingginya harga tiket memengaruhi tingkat kehadiran suporter.
Menanggapi sorotan publik, FIFA menegaskan bahwa statistik kehadiran penonton berasal dari jumlah tiket yang berhasil dipindai di pintu masuk stadion. Karena itu, badan sepak bola dunia tersebut menilai visual kursi kosong tidak selalu mencerminkan angka kehadiran resmi.
“Angka kehadiran resmi mencerminkan jumlah tiket yang dipindai dan penonton yang hadir di area stadion, bukan penilaian visual terhadap tingkat keterisian kursi pada setiap saat selama pertandingan,” kata FIFA, seperti dikutip dari BBC.
(Rls/Red)
