Faktara.my.id | Timur Tengah – Pensiunan jenderal Israel Jacob Nagel menyebut Arab Saudi hanya seperti “macan kertas” di Timur Tengah. Ia menilai Riyadh memiliki persenjataan canggih dan dana besar, tetapi belum mampu menggunakan kekuatan militernya secara efektif.
Jacob Nagel, mantan kepala Dewan Keamanan Nasional Israel, melontarkan kritik tersebut saat membahas kerja sama pertahanan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.
Nagel menilai kekuatan militer Saudi tidak sebanding dengan kemampuan persenjataan yang dimilikinya. Ia menyoroti pengalaman Riyadh menghadapi kelompok Houthi di Yaman.
Menurutnya, Arab Saudi gagal memaksimalkan berbagai aset militer canggih dalam konflik tersebut.
Nagel juga menilai Riyadh menghadapi persoalan ekonomi dan keamanan. Kondisi itu, menurut dia, mendorong Saudi mencari dukungan dari negara lain.
Saudi Cari Dukungan Lewat Aliansi Baru
Nagel menduga kerja sama Saudi dengan Turki dan Pakistan menjadi bagian dari strategi Riyadh menghadapi ancaman regional.
Ia juga menilai Saudi ingin mengirim pesan kepada Amerika Serikat agar memberikan perhatian lebih besar terhadap kebutuhan pertahanan Riyadh.
“Ini lebih merupakan manuver diplomatik yang ditujukan untuk menekan pemerintah Amerika,” ujar Nagel seperti dikutip The Jerusalem Post, Selasa (11/8/2026).
Nagel menyebut Saudi kecewa terhadap kondisi persediaan rudal dan sistem pencegat di negara-negara Barat. Riyadh, menurut dia, ingin menunjukkan bahwa mereka tidak akan menghadapi ancaman kawasan seorang diri.
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Perkuat Kerja Sama
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani kesepakatan pertahanan bersama di Makkah pada Jumat.
Kesepakatan tersebut memperkuat kerja sama keamanan ketiga negara di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dalam pertemuan tersebut.
Sejumlah sumber menyebut ketiga negara sebenarnya telah membahas kesepakatan itu sejak lama. Namun, perkembangan keamanan terbaru di kawasan mempercepat proses pembentukannya.
Kritik Nagel muncul ketika Arab Saudi, Turki, dan Pakistan mulai memperkuat hubungan pertahanan. Kerja sama tersebut menunjukkan Riyadh tengah mencari strategi baru untuk menghadapi ancaman keamanan dan mengurangi ketergantungan pada dukungan Amerika Serikat.
(Rls/Tim)
