Faktara.my.id – Jakarta | Di tengah dinamika keragaman Indonesia, nama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. muncul sebagai figur pemersatu. Sejak 21 Oktober 2024, tokoh intelektual Islam asal Bone ini resmi mengemban amanah sebagai Menteri Agama RI ke-25 dalam Kabinet Merah Putih.
Bukan sekadar birokrat, Nasaruddin adalah wajah Islam moderat Indonesia. Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, ia telah mentransformasi masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut menjadi simbol kerukunan lintas iman yang diakui dunia.
Jejak Akademis: Santri Bone hingga McGill dan Leiden
Lahir di Ujung, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada 23 Juni 1959, perjalanan intelektual Nasaruddin berakar kuat di dunia pesantren. Ia merupakan alumni setia Pesantren As’adiyah Sengkang, tempat di mana ia menempa ilmu agama sebelum akhirnya meraih gelar sarjana di IAIN Ujung Pandang.
Haus akan ilmu, ia melanglang buana ke berbagai universitas ternama dunia untuk studi doktoral dan riset, mulai dari Universitas McGill (Kanada), Universitas Leiden (Belanda), hingga menjadi sarjana tamu di Georgetown University (AS). Keahliannya dalam tafsir dan pemikiran Islam modern menjadikannya salah satu cendekiawan Muslim paling berpengaruh di tanah air.
Arsitek Dialog Lintas Iman dan Kesetaraan
Salah satu kontribusi terbesarnya yang melampaui sekat agama adalah pendirian Masyarakat Dialog antar Umat Beragama. Kiprahnya di dunia internasional pun tak main-main; ia dipercaya menjadi penasihat dalam tim Inggris-Indonesia oleh mantan PM Inggris, Tony Blair.
Nasaruddin juga dikenal sebagai pemikir progresif. Melalui bukunya yang fenomenal, “Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran”, ia membedah bias gender dalam tafsir klasik, sebuah langkah berani yang menempatkannya sebagai pembela hak-hak perempuan dalam perspektif teologis.
Momen Historis dan Kepemimpinan Inklusif
Tahun 2024 menjadi catatan emas bagi karier diplomatik religiusnya. Nasaruddin menjadi tokoh kunci dalam menyambut kunjungan historis Paus Fransiskus ke Indonesia. Di terowongan silaturahmi yang menghubungkan Istiqlal dan Katedral, ia bersama Paus menandatangani Deklarasi Bersama Istiqlal 2024.
Aksi simbolisnya yang mencium kening Paus Fransiskus menjadi pesan kuat kepada dunia tentang wajah Islam Indonesia yang penuh kasih dan persaudaraan. Bagi Nasaruddin, Masjid Istiqlal bukan sekadar tempat sujud umat Islam, melainkan “rumah besar” bagi kemanusiaan.
Tantangan dan Konsistensi di Tengah Sorotan
Sebagai tokoh publik, langkah Nasaruddin tak jarang mengundang diskusi hangat. Kehadirannya dalam program studi agama Yahudi di Amerika Serikat pada pertengahan 2024 sempat memicu pro-kontra. Namun, bagi sang Imam Besar, memperluas cakrawala pengetahuan tentang agama lain adalah bagian dari komitmennya untuk menghapus sekat kebencian dan memperkuat literasi keagamaan yang inklusif.(Rls/Red)
