Faktara.my.id | Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan skema pembagian paket makanan untuk hari libur sekolah dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari langkah efisiensi anggaran, optimalisasi pengawasan, serta penyelarasan logistik secara nasional, (2/6/2026).
Keputusan ini diambil setelah BGN melakukan evaluasi mendalam terhadap rangkaian uji coba (pilot project) yang telah berjalan di berbagai daerah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa mendistribusikan makanan siap saji saat siswa tidak berada di sekolah memicu tantangan operasional yang tinggi dan dinilai kurang efektif.
Pertimbangan Utama Penghentian Skema Hari Libur
BGN mengidentifikasi beberapa faktor krusial yang menjadi alasan di balik perubahan regulasi ini:
•Risiko Salah Sasaran: Ketika paket makanan diantarkan ke rumah atau diambil saat hari libur, sulit dipastikan bahwa makanan tersebut benar-benar dikonsumsi oleh siswa yang bersangkutan. Seringkali, makanan tersebut dibagi dengan anggota keluarga lain.
•Kendala Logistik dan Biaya Operasional: Distribusi di hari libur memerlukan rantai pasok (supply chain) tersendiri yang memakan biaya besar, mengingat siswa tidak terkumpul di satu titik (sekolah).
•Standar Higienitas dan Keamanan Pangan: Makanan bergizi yang disediakan memiliki batas waktu konsumsi yang ketat. Proses distribusi di luar sekolah meningkatkan risiko makanan rusak atau basi sebelum dikonsumsi.
•Pengalihan Alokasi Dana: Anggaran yang semula direncanakan untuk hari libur akan dialihkan untuk meningkatkan kualitas kandungan gizi (pemenuhan protein dan kalori) pada hari efektif sekolah, serta memperluas jangkauan program ke wilayah pelosok (3T).
Dengan kebijakan baru ini, Program MBG akan difokuskan penuh pada hari-hari sekolah aktif dengan memanfaatkan ekosistem Satuan Pelayanan BGN (Central Kitchen).
Skema yang Dinilai Memiliki Banyak Keunggulan
Pengawasan Konsumsi secara Langsung: Guru dan petugas dapat memastikan secara langsung bahwa makanan dihabiskan oleh anak-anak target sasaran.
Edukasi Kolektif: Makan bersama di sekolah dikombinasikan dengan edukasi mengenai pola hidup bersih, sehat, dan tata cara makan yang baik (table manners).
Keteraturan Distribusi: Jadwal operasional dapur umum dan penyerapan bahan baku dari petani atau peternak lokal menjadi lebih stabil dan terprediksi.
Langka Antisipasi Bagi Anak Kurang Mampu
Meskipun pembagian makanan matang di hari libur dihentikan, BGN tetap mengkaji skema alternatif untuk menjaga asupan gizi anak-anak dari keluarga prasejahtera selama masa libur panjang sekolah. Salah satu opsi yang disiapkan adalah pemberian paket intervensi gizi berbasis bahan pangan kering (seperti susu, telur, atau biskuit tinggi kalori) yang dibagikan menjelang akhir semester.
Langkah ini diambil demi memastikan bahwa esensi utama program, yaitu menurunkan angka stunting dan menyiapkan generasi unggul, tetap berjalan optimal, akuntabel, dan tepat sasaran.
(Rls/ Ramdan.S)
