Faktara.my.id | Jakarta – Disaat banyak orang mengejar harta hingga akhir usia, Djohari Zein justru memilih mengejar pahala yang tak terputus.
Beliau telah meraih apa yang diimpikan banyak orang; membangun perusahaan besar, dikenal sebagai sosok penting di balik berdirinya JNE, hidup dalam kecukupan dan kehormatan.
Namun, di balik gemerlap dunia usaha, ada panggilan hati yang jauh lebih kuat.
Sebuah panggilan untuk pulang…
Perjalanan spiritual nya tidak terjadi dalam sekejap. Ia tumbuh perlahan—dari kekaguman melihat adab dan ketenangan sahabat-sahabat Muslimnya, hingga akhirnya beliau memutuskan memeluk Islam. Sebuah keputusan besar yang mengubah arah hidupnya, bukan hanya sebagai pengusaha tetapi sebagai hamba.
Saat menjejakan kaki di Tanah Suci untuk pertama kalinya, beliau berdoa sederhana: “Ya Allah, izinkan saya membangun satu masjid.”
Namun yang hadir di dalam hatinya justru keyakinan yang lebih besar—bukan satu, melainkan 99 masjid.
Di usia yang tak lagi muda, ketika sebagian orang memilih beristirahat menikmati hasil kerja kerasnya, beliau justru memulai perjuangan baru. Masjid demi masjid dibangun, bukan untuk nama, bukan untuk pujian—tetapi untuk amal jariyah yang terus mengalir bahkan ketika napas telah berhenti.
Beliau mengajarkan kita satu hal yang sangat dalam:
“Kesuksesan sejati bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri di dunia, tetapi seberapa banyak kebaikan yang tetap berdiri setelah kita tiada.”
Kisah ini bukan hanya tentang seorang pengusaha. Ini tentang seseorang yang menemukan makna hidupnya dan memilih menjadikan sisa usianya sebagai ladang akhirat.
Karena ternyata, tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai kebaikan.
Dan mungkin, hari ini adalah giliran kita untuk bertanya pada diri sendiri:
Apa yang akan kita tinggalkan nanti?
(Agus Apriansyah)
