Faktara.my.id | Jawa Timur – Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali erupsi pada Jumat pagi. Letusan pada pukul 06.20 WIB menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 800 meter di atas puncak atau mencapai 4.476 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mengatakan kolom letusan terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan mengarah ke barat daya.
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 06.20 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 800 meter di atas puncak atau 4.476 meter di atas permukaan laut (mdpl),” kata Liswanto dalam laporan tertulis.
Saat laporan tersebut dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung.
Sebelum letusan pukul 06.20 WIB, Gunung Semeru juga mengalami dua erupsi pada Jumat pagi. Letusan pertama terjadi pukul 05.02 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak.
Erupsi berikutnya terjadi pukul 05.17 WIB dengan tinggi kolom letusan sekitar 700 meter di atas puncak.
Gunung Semeru Masih Berstatus Siaga
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru saat ini berada pada Level III atau Siaga. Petugas mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan. Area tersebut berpotensi terkena perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat harus menjauhi radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut rawan lontaran batu pijar.
Petugas juga meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru.
Potensi bahaya terutama mengancam kawasan Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Masyarakat juga perlu mewaspadai aliran lahar pada sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.
Erupsi Gunung Semeru kembali menunjukkan tingginya aktivitas vulkanik gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diminta mematuhi rekomendasi petugas dan menghindari zona yang berpotensi terkena awan panas, guguran lava, lontaran batu pijar, maupun lahar.
(Rls/Red)
