Faktara.my.id | Jakarta – PT Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian harga untuk sejumlah produk Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi. Berdasarkan informasi resmi yang dirilis, kenaikan harga yang cukup signifikan ini mulai berlaku efektif per Rabu, 10 Juni 2026.
Kenaikan kali ini menyasar pada varian produk bensin nonsubsidi populer, yakni Pertamax dan Pertamax Green 95. Sementara itu, untuk lini produk BBM bermesin diesel serta varian bensin berspesifikasi tinggi lainnya terpantau tidak mengalami perubahan harga.
Rincian Lonjakan Harga BBM
Kenaikan harga yang mendadak ini memicu perhatian publik lantaran persentase kenaikannya berada di kisaran 31% hingga 32%. Berikut adalah rincian perbandingan harga sebelum dan sesudah penyesuaian per 10 Juni 2026:
1.Pertamax
Harga Lama: Rp 12.300 per liter
Kenaikan: +Rp 3.950 (+32,1%)
Harga Baru: Rp 16.250 per liter
2.Pertamax Green 95
Harga Lama: Rp 12.900 per liter
Kenaikan: +Rp 4.100 (+31,8%)
Harga Baru: Rp 17.000 per liter
Daftar Harga BBM yang Tetap (Tidak Mengalami Kenaikan)
Di sisi lain, beberapa produk BBM non-subsidi terpilih terpantau stabil tanpa adanya fluktuasi harga (+Rp 0):
Pertamax Turbo: Tetap di angka Rp 20.750 per liter
Dexlite: Tetap di angka Rp 23.000 per liter
Pertamina Dex: Tetap di angka Rp 24.800 per liter
Dampak dan Kekhawatiran masyarakat
”Beban Lebih Berat, Performa Terancam!”
Kenaikan harga yang terjadi secara tiba-tiba ini diprediksi akan meningkatkan beban pengeluaran harian para pemilik kendaraan pribadi secara drastis, khususnya pengguna Pertamax yang merupakan salah satu BBM nonsubsidi paling masif dikonsumsi masyarakat kelas menengah.
Selain faktor finansial tersebut juga memperingatkan dampak teknis yang membayangi para pengendara pasca-kenaikan harga ini. Ketika harga BBM melambung tinggi, muncul risiko psikologis maupun teknis di mana konsumsi kendaraan justru berpotensi menjadi makin boros, serta risiko mesin kendaraan yang lebih cepat aus jika penyesuaian ini tidak dibarengi dengan perawatan kendaraan yang tepat atau jika konsumen beralih ke kualitas BBM yang lebih rendah.
(Rls/M Lukman)
