Faktara.my.id | Jakarta – Luar Biasa, MasyaAllah, bayangkan sebuah investasi yang modalnya ditanam 200 tahun lalu, tapi keuntungannya masih terus mengalir sampai hari ini tanpa berkurang satu rupiah pun. Masya Allah, inilah nyata-nyata terjadi pada jamaah haji asal Aceh!
Baru-baru ini media sosial dihangatkan oleh sebuah momen unik sekaligus haru di Makkah. Dalam sebuah video yang beredar, terlihat para jamaah haji asal Aceh dikumpulkan di sebuah ruangan. Bukan untuk ditagih biaya tambahan, melainkan untuk dibagikan “uang saku” tunai sebesar 2.000 Riyal atau setara dengan Rp9,3 juta per jamaah!
Keunikan tidak berhenti di situ. Karena saking bersyukurnya, para jamaah Aceh bahkan terlihat membalas kebaikan pihak pengelola dengan memberikan oleh-oleh khas daerah mereka, mulai dari buah mangga segar hingga madu asli Aceh langsung ke tangan Syaikh yang bertugas. Suasana formal itu pun seketika berubah menjadi sangat hangat dan penuh kekeluargaan.
Namun, tahukah kamu siapa sosok hebat di balik “rezeki nomplok” yang rutin diterima jamaah Aceh setiap tahunnya ini?
Perkenalkan, beliau adalah Al-Habib Abdurrahman Al-Habsyi, atau yang lebih dikenal dengan nama Habib Bugak Aceh. Beliau adalah seorang ulama sekaligus saudagar besar asal Aceh yang hidup di abad ke-19.
Mari Kita flashback Sedikit ke Tahun 1809 Masehi
Pada masa itu, Habib Bugak membeli sebidang tanah kosong yang letaknya sangat strategis di dekat Masjidil Haram, tepatnya di wilayah Qusyasyiah. Alih-alih menjadikannya istana pribadi atau bisnis keluarga, beliau justru mengikrarkan tanah tersebut sebagai Wakaf Baitul Asyi (Rumah Aceh) di hadapan Hakim Mahkamah Syariah Makkah.
Tujuannya sangat mulia: beliau ingin memberikan tempat tinggal gratis bagi jamaah haji asal Aceh yang datang ke tanah suci, yang kala itu harus menempuh perjalanan berbulan-bulan menggunakan kapal laut.
Seiring berjalannya waktu dan perluasan kota Makkah, tanah wakaf tersebut mengalami transformasi luar biasa. Di bawah pengelolaan nazir (pengelola wakaf) yang sangat amanah dan profesional dari generasi ke generasi, aset ini dikembangkan menjadi hotel-hotel bintang lima, pemukiman mewah, dan pusat bisnis di sekitar Ka’bah. Total asetnya kini diperkirakan menembus angka Rp5,2 triliun.
Keuntungan dari perputaran bisnis hotel dan properti raksasa itulah yang kemudian dikonversi menjadi uang tunai, lalu dibagikan kembali kepada setiap jamaah haji asal Aceh yang berangkat ke tanah suci sampai hari ini.
Habib Bugak Aceh telah tiada ratusan tahun lalu, jasadnya sudah menyatu dengan tanah.
Namun, berkat visi akhiratnya yang luar biasa, “saham” kebaikan beliau tidak pernah berhenti berputar. Setiap kali jamaah Aceh tersenyum menerima uang saku tersebut, setiap kali mereka bisa beribadah dengan tenang di Makkah, pahala jariyahnya terus mengalir deras ke kubur beliau.
Sebuah tamparan keras sekaligus inspirasi bagi kita semua yang masih hidup di dunia: harta sebanyak apa pun tidak akan dibawa mati, kecuali harta yang sengaja kita “titipkan” di jalan Allah lewat wakaf dan sedekah jariyah.
(Rls/Red)
