Faktara.my.id | Jakarta – Memasuki fase akhir bulan suci Ramadan, geliat ekonomi di kawasan Jalur Sepeda Kanal Banjir Timur (BKT), Duren Sawit, semakin menunjukkan transformasi luar biasa. Tak ingin kehilangan momentum “panen” tahunan, para pelaku UMKM di kawasan ini memutuskan untuk beroperasi nonstop 24 jam penuh. Senin, (09/03/2026).
Langkah berani ini diambil untuk menangkap pergeseran pola konsumsi masyarakat yang cenderung aktif di waktu-waktu yang tidak biasa selama Ramadhan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, arus perputaran uang di BKT kini terbagi menjadi tiga gelombang strategis.
Strategi ‘Tiga Gelombang’ Pasar BKT.
1. Sore Hari (Pasar Takjil): Menjadi titik kumpul warga untuk berburu kudapan berbuka puasa.
2. Malam Hari (Pasar Lebaran): Pasca-tarawih hingga dini hari, fokus beralih pada lapak pakaian, sepatu, dan aksesoris guna memenuhi kebutuhan Idulfitri yang tinggal menghitung hari.
3. Dini Hari (Wisata Sahur): Warung makan di sepanjang BKT bertransformasi menjadi penyelamat bagi warga maupun pekerja yang mencari santap sahur hingga menjelang imsak.
Optimisme Pelaku Usaha
Momentum ini dianggap sebagai waktu emas bagi para pedagang untuk menutup target penjualan tahunan. Salah satu pedagang pakaian di lokasi mengakui bahwa omset di penghujung Ramadhan melonjak drastis dibanding hari biasa.
”Kalau bulan biasa kita tutup tengah malam, tapi sekarang lanjut terus. Habis tarawih orang cari baju, lewat jam dua pagi orang cari makan sahur sambil lihat-lihat dagangan. Sayang kalau lapak ditutup, pembelinya ada terus,” ungkapnya dengan optimis.
Catatan Ketertiban dan Kebersihan
Meski menjadi angin segar bagi ekonomi kerakyatan, aktivitas 24 jam ini membawa tantangan tersendiri pada aspek ketertiban umum. Kepadatan di jalur sepeda tetap menjadi perhatian utama petugas di wilayah Jakarta Timur.
Pemantauan berkala terus dilakukan untuk memastikan aktivitas perdagangan tidak menutup total akses pejalan kaki maupun pesepeda, serta meminimalisir penumpukan sampah sisa sisa aktivitas perdagangan.
Keberadaan UMKM yang tak pernah tidur di BKT ini menjadi bukti nyata bahwa kawasan tersebut telah menjadi urat nadi ekonomi yang mampu beradaptasi dengan ritme ibadah dan kebutuhan masyarakat Jakarta Timur.
(M. Lukman)
