Faktara.my.id | Jakarta – Sejarah seringkali mencatat heroisme dalam bentuk pekik merdeka di medan perang, namun jarang yang mengulas tentang air mata kesungguhan di balik diplomasi perdana kita. Tahukah Anda? Saat Proklamasi 17 Agustus 1945 berkumandang, Indonesia berdiri dengan kebanggaan, namun dengan kas negara yang secara teknis berada di angka nol.
Di tengah kebingungan para diplomat muda kita yang harus terbang ke luar negeri untuk mencari pengakuan kedaulatan, muncul seorang pahlawan tanpa tanda jasa dari tanah Palestina. Ia bukan memegang senjata, melainkan memegang kunci brankas seluruh hartanya.
Ketulusan Tanpa Kwitansi
Sosok itu adalah Muhammad Ali Taher, seorang saudagar kaya sekaligus pemilik surat kabar Al-Shura. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan seluruh tabungannya di Bank Arab kepada delegasi Indonesia. Baginya, kemerdekaan Indonesia adalah harga diri umat manusia.
Momen paling menggetarkan adalah saat beliau menolak diberikan tanda terima atau kwitansi atas bantuan luar biasanya itu.
”Terimalah harta ini untuk perjuanganmu. Jangan berikan aku tanda terima, karena persaudaraan tak butuh bukti di atas kertas,” ungkapnya dengan penuh ikhlas.
Buah dari Pengorbanan
Berkat suntikan dana “darurat” dari Ali Taher, para diplomat Indonesia mampu melobi Mesir dan negara-negara Liga Arab lainnya. Hasilnya luar biasa: Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Republik Indonesia secara de jure.
Kini, saat kita menatap bendera merah putih berkibar dengan bebas, ada hutang budi yang tak akan pernah lunas kepada rakyat Palestina. Ironi sejarah mencatat, orang yang melunaskan jalan kemerdekaan kita, bangsanya sendiri hingga hari ini masih berjuang menjemput kemerdekaan yang sama.
Indonesia membela Palestina bukan sekadar urusan politik atau agama, melainkan urusan balas budi dan kemanusiaan. Mari kita tundukkan kepala sejenak, mengirimkan doa terbaik untuk almarhum Muhammad Ali Taher.
(FB/M.Lukman)
