Faktara.my.id | Aceh – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) menggelar program Creative Recovery for Children: Melukis Bersama Anak-Anak untuk membantu memulihkan kondisi psikososial anak-anak terdampak bencana banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang.
Direktur Kuliner Kemenekraf Romi Astuti mengatakan pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur. Pemerintah juga perlu memulihkan kondisi mental dan memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan pengalaman mereka.
“Setelah bencana, yang perlu dipulihkan bukan hanya bangunan, tetapi juga jiwa dan senyum anak-anak kita,” kata Romi dalam keterangannya di Aceh Tamiang, Minggu.
100 Anak Ikuti Program Pemulihan Berbasis Seni
Program trauma healing berbasis seni rupa tersebut melibatkan 100 peserta yang terdiri atas 50 siswa SD dan 50 siswa SMP. Para peserta mendapat pendampingan dari mentor profesional, seniman lokal, dan psikolog klinis.
Mereka membuat karya dengan tema “Bangkit” dan “Harapan Baru” sebagai media untuk mengekspresikan ketakutan, harapan, dan impian setelah bencana.
Romi menjelaskan Kemenekraf juga akan mengkurasi karya peserta untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif, seperti art print, tas, dan cenderamata.
Lumpur Bencana Jadi Medium Lukisan
Program tersebut memiliki pendekatan unik dengan memanfaatkan pigmen alami dari lumpur dan debu sisa bencana sebagai medium lukis. Kemenekraf menjadikan penggunaan material tersebut sebagai simbol transformasi pengalaman traumatis menjadi karya seni.
Pendiri Kids Biennale Indonesia Agatha Anggira Paramita Putri atau Gie Sanjaya mengatakan program ini menggunakan metode observe, connect, invite, guide, dan reflect yang menitikberatkan proses serta pengalaman anak.
“Seni di sini berfungsi sebagai jembatan pemulihan jiwa,” ujar Gie.
Karya Anak Akan Dipamerkan
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Aceh Tamiang Yusriati mengapresiasi program tersebut karena membantu mempercepat pemulihan psikososial masyarakat terdampak bencana.
Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan pembuatan instalasi umbul-umbul kolektif. Panitia berencana memamerkan karya tersebut di Aceh Tamiang sebelum membawanya ke Pameran Nasional di Jakarta.
(Rls/Red)
