Faktara.my.id | Kendal – Sebuah bangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di lereng Gunung Prau, Desa Kediten, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, mendadak jadi sorotan. Bukan karena kemegahannya, melainkan karena lokasinya yang dinilai tidak lazim, berada di area terpencil dan jauh dari permukiman warga, (25/4/2026).
Foto yang beredar luas memperlihatkan bangunan koperasi berdiri di kawasan perbukitan dengan akses yang tampak sepi. Kondisi ini langsung memicu beragam reaksi publik. Tak sedikit warga yang mempertanyakan efektivitas dan tujuan pembangunan koperasi tersebut.
Menanggapi hal itu, Kepala Desa Kediten, Rudi Alfaruq, menegaskan bahwa penentuan lokasi bukan tanpa alasan. Ia menyebut, titik pembangunan koperasi justru berada di jalur yang sering dilalui masyarakat dari empat dusun, yakni Krajan, Doplang, Kenteng, dan Bukitsari.
“Lokasi ini kami pilih karena berada di tengah jalur aktivitas warga. Jadi bukan terpencil seperti yang dibayangkan,” ujar Rudi saat dihubungi, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, kondisi geografis Desa Kediten yang berada di ketinggian antara 900 hingga 1.100 Meter Diatas Permukaan Laut (MDPL) membuat pola permukiman warga tersebar. Karena itu, aksesibilitas menjadi pertimbangan utama dalam menentukan lokasi koperasi.
Rudi juga menjelaskan bahwa koperasi tersebut dibangun untuk menjawab kebutuhan utama masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Pada tahap awal, koperasi akan difokuskan pada penyediaan kebutuhan pertanian seperti pupuk.
“Yang paling dibutuhkan warga saat ini adalah pupuk. Koperasi ini diharapkan bisa mempermudah akses mereka,” jelasnya.
Selain itu, koperasi juga diproyeksikan menjadi tempat penampungan dan pemasaran hasil pertanian warga, seperti jagung dan kopi. Dengan begitu, petani tidak perlu lagi menjual hasil panen ke daerah bawah yang membutuhkan waktu dan biaya lebih besar.
“Ke depan, koperasi bisa membeli hasil tani warga. Jadi petani tidak perlu jauh-jauh turun ke bawah,” tambahnya.
Ia berharap, pengelolaan koperasi nantinya dapat dilakukan langsung oleh masyarakat setempat agar lebih sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Pemerintah desa juga membuka peluang kerja sama antar wilayah untuk memperkuat distribusi hasil produksi.
Meski menuai pro dan kontra, pemerintah desa memastikan bahwa pembangunan koperasi telah melalui pertimbangan matang. Kini, publik menanti realisasi dan manfaat nyata dari keberadaan Kopdes Merah Putih tersebut apakah benar menjadi solusi ekonomi warga, atau justru sebaliknya.
(Rls/Agus Apriansyah)
