Faktara.my.id | Kudus – Sosok Mbah Riyan, ulama asal Kudus, Jawa Tengah yang tengah viral di media sosial, Sabtu, (8/8/2026).
Selain karena kedalaman ilmunya, Mbah Riyan juga dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana.
Nama asli Mbah Riyan adalah Supriyanto. Awal mula dipanggil Mbah Riyan dilakukan oleh teman-temannya.
Sedangkan dalam khazanah ilmu keislaman, namanya tenar dengan sebutan Ibnu Harjo Al-Jawi.
Mbah Riyan merupakan seorang ulama yang banyak mentahqiq (menganalisis, mengoreksi, memverifikasi) kitab klasik yang berisi keilmuan Islam dan juga telah menuliskan beberapa karya dalam bentuk kitab berbahasa Arab.
Pria kelahiran Kudus 1986 ini memang benar seorang pentahqiq kitab klasik berisi ilmu keislaman.
Namun di balik kepiawaiannya dalam bidang keilmuan Islam, rupanya Mbah Riyan merupakan seorang kuli bangunan.
Di sela-sela aktivitasnya sebagai seorang kepala rumah tangga, dia memiliki hobi memancing.
Saat di temui di kediamanya, dengan kaus hitam dan sarung hijau, Mbah Riyan keluar dari rumahnya yang berada di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.
Di sebuah teras rumah yang menghadap langsung ke sawah, Mbah Riyan menyambut tamunya ini dengan menyajikan kopi.
Mula-mula perbincangan dengan Mbah Riyan tidak jauh-jauh dari bahasan aktivitasnya sehari-hari.
Memang dia bekerja serabutan sejak memutuskan kembali ke tanah kelahirannya di Desa Wates Kudus pada 2018.
Sebelumnya, dia merupakan staf pengajar di salah satu lembaga pendidikan Islam Arraayah di Sukabumi Jawa Barat sejak 2013 sampai 2018.
Keputusannya untuk kembali ke Desa Wates memang sudah bulat.
Dia ingin hidup tenang bersama istri dan anaknya setelah bertahun-tahun merantau di Jakarta untuk menempuh pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) sejak 2005 sampai 2013.
Setelah lulus dari LIPIA, bapak empat anak ini diamanahi untuk mengabdi di lembaga pendidikan Islam Arraayah Sukabumi.
“Karena memang sebelumnya saya menikah sejak menjadi mahasiswa di LIPIA. Dari situ saya kadang terpisah dengan istri dan anak,” kata Mbah Riyan.
Sejak saat itulah kemudian dia menjalani hidup layaknya orang biasa. Berbagai pekerjaan ia jalani demi mendapatkan nafkah untuk menghidupi keluarga.
Dia kerja serabutan. Acap kali dia bekerja sebagai kuli bangunan. Kemudian hobi atau kebiasaan yang tidak bisa dia tinggalkan yaitu memancing.
Dengan aktivitas memegang joran, dia mengaku menemukan ketenangan.
“Saya ada teman dekat di sini yang memang sering memancing di sungai,” kata Mbah Riyan.
Tahqiq Kitab Klasik
Di balik kebiasaannya dalam menjalani aktivitas hidup mulai dari bekerja sebagai kuli bangunan dan sebagai pria yang memiliki hobi memancing, rupanya Mbah Riyan memiliki aktivitas lain yang melambungkan namanya.
Aktivitasnya yaitu mentahqiq kitab klasik ilmu keislaman.
Mentahqiq ini merupakan aktivitas yang mensyaratkan adanya kepiawaian dalam berbahasa Arab dan keluasan ilmu keislaman.
Sebab, seluruh karya yang ditahqiq Mbah Riyan berbahasa Arab.
Awal mula dia mentahqiq yaitu pada 2012 saat masih duduk sebagai mahasiswa LIPIA.
Karya pertama yang dia tahqiq berjudul Faraid Saniyah karya KH Syaroni Ahmadi ulama asal Kudus.
Dari situ kemudian aktivitas mentahqiq buku klasik keislaman terus berlanjut. Hingga saat ini sudah seratus lebih buku keislaman yang sudah dia tahqiq.
“Kalau jumlahnya saya lupa, 100-an lebih. Tahun 2018 saja sudah mencapai 70-an yang sudah saya tahqiq,” katanya.
Tahqiq ini merupakan aktivitas mengoreksi, menganalisis, dan melakukan verifikasi sebelum karya itu diterbitkan.
Dia lebih gandrung mentahqiq karya ulama dari Indonesia.
Sebab, katanya, banyak manuskrip dari ulama Nusantara yang memang belum diterbitkan.
Di situlah kemudian kepiawaiannya untuk melakukan koreksi diterapkan.
Dan belakangan memang karya kitab klasik yang membahas fikih, hadi, usul fikih, tafsir telah selesai ditahqiq Mbah Riyan.
Kepiawaiannya dalam berbahasa Arab dan luasnya pengetahuan ilmu keislaman didapatkan secara berjenjang.
Dari kecil dia sudah belajar di Madrasah Diniyah Hidayatul di kampungnya di Desa Wates bersamaan dengan dia menempuh pendidikan di SDN 3 Wates.
Kemudian setelah itu dia melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Nahdlatul Muslimin di Undaan Kidul.
Selepas dari MA Nahdlatul Muslimin, oleh gurunya dia diarahkan untuk melanjutkan studi ke LIPIA Jakarta.
“Pada tahun 2005 saya mulai ke Jakarta untuk studi di LIPIA,” katanya.
Di LIPIA inilah dia mulai mendapatkan tempat untuk mendalami ilmu keislaman. Dia terbilang mahasiswa yang unggul.
Karenanya pada 2012, dia mendapatkan undangan khusus dari Kerajaan Arab Saudi untuk menjalankan ibadah haji.
Selain mentahqiq, Mbah Riyan juga memiliki kebiasaan menulis. Ada sekitar 10 karyanya berbahasa Arab berbagai bidang keilmuan Islam yang telah selesai ditulis.
Dia mengakui, dengan menulis dia merasa hidup. Oleh karena itu, dia memilih untuk menjalani keseharian tanpa terikat dengan aturan instansi.
Sebab, menulis merupakan aktivitas yang didasarkan pada inspirasi. Kontan ketika inspirasi itu datang, bergegas dia menuliskannya.
“Makanya saya memilih untuk tidak terikat pada instansi, jadi waktunya lebih longgar dan saya bisa melakukan aktivitas mentahqiq dan menulis dengan leluasa,” katanya.
Peraih MUI Award dan Pesan Kesederhanaan
Pada Juli 2026 Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan Mbah Riyan sebagai penerima MUI Award 2026 kategori karya tulis Islam.
Sebelumnya memang pihak MUI lebih dulu menghubungi Mbah Riyan karena masuk nominasi.
Namun Mbah Riyan tak meresponsnya, sebab dia memang tidak begitu tertarik saat ada nomor baru yang meneleponnya.
Namun setelah dibuka pesannya, ternyata dia masuk nominasi dalam MUI Award 2026 dan diundang untuk datang ke Jakarta.
Undangan dari MUI untuk ke Jakarta tidak diamini oleh Mbah Riyan.
Sebab, sejak 2018 setelah kembali ke Desa Wates, dia sudah meneguhkan diri untuk menghindari keriuhan publik.
Termasuk dia tidak lagi menggunakan media sosial. Terakhir media sosial yang sering digunakan yaitu Facebook. Dan sejak 2018 sudah ditinggalkan.
“Saya hanya pakai Whatsapp, itu pun nomor tertentu saja yang bisa menghubungi. Hanya kawan mancing sama teman yang biasa meminta mentahqiq,” kata Mbah Riyan.
Benar saja, Mbah Riyan keluar sebagai peraih penghargaan pada MUI Award 2026 kategori karya tulis Islam.
Penghargaan dari MUI tersebut diberikan kepada Ibnu Harjo Al-Jawi. Ini merupakan nama lain dari Mbah Riyan.
Dia memilih nama itu karena memang terinspirasi dari kesederhanaan dan kegigihan kakeknya yang bernama Harjo.
“Banyak pelajaran hidup yang bisa saya petik dari kakek saya yang bernama Harjo. Kini beliau sudah wafat,” kata dia.
Menurutnya, Harjo merupakan anak yatim yang hidup ala kadarnya pada masa kecil.
Bahkan karena tidak memiliki orang tua, Harjo tidur di sembarang tempat sampai akhirnya diadopsi oleh orang lain.
Kegigihan sang kakek membuatnya mengerti arti kehidupan.
“Bahwa hidup itu ya biasa saja. Tidak perlu aneh-aneh dan tidak perlu terkenal,” katanya singkat.
Pembawaan dari sang kakek pun dia tiru saat ini. Dia memilih hidup di desa tempat dia dilahirkan. Menjalani aktivitas ala kadarnya.
Kadang jadi kuli bangunan. Pernah juga ia bekerja di gudang jasa ekspedisi. Dan tidak lupa dia acap memancing sebagai hobinya.
Di balik seluruh aktivitasnya yang biasa-biasa saja dan sederhana, rupanya Mbah Riyan sangat dikenal dalam khazanah keilmuan Islam berkat karya tahqiqnya dan karya-karya tulisannya.
“Sebenarnya saya tidak berkenan diviralkan,” katanya dengan nada lirih. “Saya berusaha untuk menghindar dari situ,” tambahnya.
(Rls/Red)
