Faktara.my.id | Jakarta – Mahasiswa S2 Harvard Graduate School of Education (HGSE) asal Indonesia, Allegra Jade Dreanda Isdar, memaparkan hasil penelitiannya di hadapan sivitas akademika dalam acara wisuda HGSE pada 28 Mei 2026.
Harvard Graduate School of Education (HGSE) memilih Allegra Jade Dreanda Isdar sebagai salah satu pembicara dalam Convocation 2026. Berdasarkan siaran yang ditayangkan melalui kanal YouTube HGSE, panitia seleksi yang terdiri atas dosen, staf, dan mahasiswa menetapkan Allegra setelah melalui proses penilaian untuk mewakili lulusan pada acara tersebut.
Allegra, perempuan kelahiran Jakarta yang berusia 20 tahun, menyelesaikan studi magisternya di bidang Human Development and Education di Harvard Graduate School of Education (HGSE).
Dilansir kompas.com, “Allegra memiliki ketertarikan tinggi pada pendidikan dan kesehatan anak usia dini. Dia telah memimpin penelitian di Asia Tenggara tentang pendidikan dan kesehatan anak perempuan, stigma sosial, telah berpraktik di klinik sebagai terapis anak untuk anak-anak dengan gangguan spektrum autisme, dan mengajar di kelas anak usia dini yang tersebar dari Indonesia hingga Amerika Utara,” ucap Senior Associate Dean for Academic Programs and Student Services, Maritza Hernandez. Selasa, (5/6/2026).
Allegra membuka pidatonya dengan mengajak para lulusan untuk terus melakukan eksplorasi dan tidak berhenti mencari pengalaman serta pengetahuan baru.
“Pada akhirnya, setelah semua penjelajahan kita, kita akan sampai di tempat kita memulai dan mengenal tempat itu untuk pertama kalinya. Sebelum kita memecahkan suatu masalah, kita harus terlebih dahulu bertanya siapa yang mendefinisikannya,” ucap Allegra.
Penelitian di Papua
Allegra mengaku telah bertekad memperbaiki ketidaksetaraan pendidikan di Indonesia sejak mulai kuliah di Harvard. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, ia melakukan penelitian bersama dosen pembimbingnya, Dr. Fernando Reimers, sebagai analis kebijakan dan konsultan penelitian yang berfokus pada penyelesaian masalah nyata.
“Masalah yang dihadapi tim saya, berada di Papua, Indonesia, yang kebetulan cocok dengan saya. Masalah yang dihadapi klien kami adalah guru tidak datang ke sekolah, sehingga anak-anak tidak belajar. Kami harus menyelesaikan masalah ini agar anak-anak dapat belajar,” ungkapnya.
