Faktara.my.id | Selat Sunda – Sejumlah nelayan dilaporkan terjebak hujan material vulkanik saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi mendadak di perairan Selat Sunda. Para nelayan saat itu tengah melaut di sekitar kawasan yang masuk radius rawan bencana.
Material batu pijar dan abu vulkanik menyelimuti perairan serta mengurangi jarak pandang. Kondisi tersebut membuat para nelayan harus segera menyelamatkan diri dan mengarahkan perahu menjauh dari sumber erupsi.
Nelayan Cari Perlindungan di Atas Kapal
Lontaran material vulkanik mengancam keselamatan nelayan dan armada perahu tradisional. Sejumlah nelayan mematikan mesin dan berlindung di balik bagian kapal yang kokoh untuk menghindari hantaman batu vulkanik.
Setelah kondisi memungkinkan, mereka kembali menyalakan mesin dan memutar arah menuju pesisir terdekat.
Situasi tersebut membuat proses evakuasi menjadi tantangan bagi petugas karena abu vulkanik mengganggu jarak pandang di sekitar perairan.
Tim SAR Pantau Nelayan yang Belum Kembali
Tim SAR gabungan bersama personel Polairud dan BPBD menyisir perairan di sekitar lokasi. Petugas memantau keberadaan nelayan yang belum kembali sekaligus membantu mengarahkan nelayan menuju wilayah yang lebih aman.
Petugas juga mendata kondisi perahu yang terdampak material erupsi. Beberapa perahu dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian atap dan lambung setelah terkena lontaran material vulkanik.
Nelayan Diminta Menjauh dari Kawah Aktif
Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan nelayan dan masyarakat pesisir tentang bahaya beraktivitas terlalu dekat dengan kawah aktif.
PVMBG mengimbau nelayan, pemilik kapal, dan masyarakat pesisir mematuhi radius aman yang berlaku. Masyarakat juga diminta tidak mendekati kawah aktif Gunung Anak Krakatau sampai otoritas menyatakan kondisi aman.
Keselamatan harus menjadi prioritas. Nelayan perlu memantau informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau sebelum melaut dan segera menjauh apabila aktivitas vulkanik meningkat.
Erupsi di tengah aktivitas melaut dapat berubah menjadi situasi berbahaya dalam hitungan menit. Kepatuhan terhadap zona aman dan informasi resmi menjadi langkah penting untuk mencegah korban saat Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik.
(Rls/Red)
