Faktara.my.id | Jakarta – Ekonom sekaligus Guru Besar Adam Smith Business School University of Glasgow, Prof. Soner Başkaya, menilai transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat ekonomi baru menjadi langkah tepat bagi Indonesia di tengah perubahan rantai pasok global.
Menurut Başkaya, Indonesia memiliki posisi strategis karena berada di jalur perdagangan dunia, kaya sumber daya alam, dan memiliki posisi politik yang relatif netral. Kondisi tersebut membuka peluang bagi kawasan transmigrasi untuk berkembang menjadi pusat ekonomi baru.
Ia menilai pengembangan kawasan harus terhubung dengan investasi, lapangan kerja, peningkatan keterampilan, usaha lokal, industri, dan pasar. Infrastruktur, pusat pengolahan hasil bumi, logistik, pembiayaan, serta ekosistem inovasi juga perlu diperkuat.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah. Mereka dapat memperoleh manfaat dari seluruh rantai produksi, mulai dari pengolahan, distribusi hingga pemasaran.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan paradigma baru transmigrasi kini menempatkan penciptaan peluang ekonomi dan lapangan kerja sebagai prioritas sebelum perpindahan penduduk.
“Kita harus menciptakan peluang ekonomi, menyiapkan pekerjaan dan kehidupan yang layak, baru mobilitas penduduk mengikuti secara sukarela, aman, dan dengan kepastian masa depan,” ujar Iftitah.
Pemerintah menjalankan paradigma tersebut melalui lima program unggulan, yakni Trans Tuntas, Trans Lokal, Trans Patriot, Trans Karya Nusantara, dan Trans Gotong Royong.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kepastian lahan, pemberdayaan masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, investasi, penciptaan lapangan kerja, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Sebagai bagian dari penguatan SDM, Kementerian Transmigrasi pada 2026 menerjunkan 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang terbagi dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi.
Para peserta terdiri atas 39 guru besar, 158 doktor, 263 lulusan magister, dan 1.016 sarjana. Mereka bertugas memetakan potensi kawasan, melakukan riset, mendampingi masyarakat, serta menghubungkan potensi lokal dengan teknologi, industri, investasi, dan pasar.
Transformasi tersebut diharapkan mampu menjadikan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tidak hanya meningkatkan investasi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat usaha masyarakat, dan meningkatkan kesejahteraan daerah secara berkelanjutan.
(Rls/Red)
