Faktara.my.id | Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 35,64 poin atau 0,55 persen ke level 6.496,79 pada Rabu pukul 09.15 WIB. Penguatan terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
IHSG Berpotensi Bergerak Terbatas
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan area support dan resistance 6.440-6.600.
Pelaku pasar mencermati sejumlah sentimen global, mulai dari konflik AS-Iran, harga minyak yang menembus 100 dolar AS per barel, inflasi, hingga imbal hasil US Treasury 10 tahun yang mencapai 5,04 persen.
Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada rapat FOMC September 2026 berada di kisaran 92-93 persen.
Hubungan AS-China Beri Sentimen Positif
Di tengah tekanan global, AS dan China membahas pengurangan tarif sejumlah barang, termasuk energi dan produk pertanian. China juga berkomitmen membeli 25 juta ton kedelai dari AS setiap tahun hingga 2028.
Nico menilai perkembangan tersebut membuka peluang perpanjangan gencatan perang dagang selama satu tahun.
ULN Indonesia Capai 453,4 Miliar Dolar AS
Dari dalam negeri, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2026 mencapai 453,4 miliar dolar AS atau tumbuh 4,9 persen secara tahunan.
ULN publik tercatat 218,4 miliar dolar AS, sedangkan ULN swasta mencapai 194,6 miliar dolar AS. Rasio ULN terhadap PDB berada di level 30,7 persen.
Bank Indonesia menilai struktur ULN Indonesia tetap sehat dan terkendali karena pemerintah menggunakan sebagian besar utang untuk sektor produktif dan mendominasi pembiayaan jangka panjang.
Bursa Global dan Asia Bergerak Variatif
Bursa Eropa dan Wall Street kompak melemah pada penutupan Selasa (15/9). Sementara itu, bursa Asia pada Rabu pagi bergerak variatif dengan Nikkei, Shanghai, Kospi, dan Hang Seng melemah, sedangkan Straits Times menguat.
Pergerakan IHSG masih menghadapi sejumlah sentimen global, terutama ekspektasi kebijakan The Fed, harga minyak, dan konflik di Timur Tengah. Investor juga mencermati perkembangan hubungan dagang AS-China serta kondisi utang luar negeri Indonesia.
(Rls/Red)
