Faktara.my.id | Istanbul – Iran akan menetapkan zona maritim baru yang bersifat “terbatas” di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Pejabat keamanan Iran menyebut setiap kapal yang memasuki kawasan tersebut akan masuk daftar sanksi.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan zona baru itu akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan membentang ke sejumlah wilayah di Teluk.
Rezaei menyampaikan informasi tersebut dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran Press TV pada Minggu.
Iran Klaim Selat Hormuz Berada di Bawah Kendali Militer
Rezaei menegaskan angkatan bersenjata Iran kini mengendalikan Selat Hormuz sepenuhnya. Ia juga membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut jalur pelayaran strategis tersebut masih terbuka.
“Setiap kapal yang memasuki zona baru ini akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi,” kata Rezaei.
Menurut Rezaei, Iran dan Oman juga akan menandatangani kesepakatan dalam beberapa hari mendatang untuk membuka koridor baru melalui Selat Hormuz. Ia mengatakan Iran akan mengendalikan titik masuk dan keluar koridor tersebut.
Rezaei mengklaim lebih dari 100 kapal dengan muatan lebih dari 100 juta ton kargo sebelumnya melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun, ia mengatakan jumlah kapal yang melintas kini turun menjadi sekitar tujuh atau delapan kapal yang membawa kebutuhan pokok bagi Iran.
Iran Sebut Kapal AS Berisiko Diserang
Rezaei menuduh Amerika Serikat berupaya mengirim lima hingga enam kapal melalui kawasan tersebut dengan biaya besar. Menurut dia, kapal-kapal itu biasanya mendapat serangan.
Ia tidak menjelaskan secara rinci jenis serangan maupun lokasi kejadian yang dimaksud.
Rezaei mengatakan Iran memilih tidak menenggelamkan kapal-kapal tersebut karena sebagian membawa minyak. Menurut dia, tindakan tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan di kawasan Teluk.
Iran Klaim Uji Rudal Antikapal
Dalam pernyataan lainnya, Rezaei mengklaim Iran telah menguji rudal antikapal baru terhadap kapal Angkatan Laut AS sekitar 48 jam sebelumnya.
“Untuk pertama kalinya, kami menguji rudal antikapal kami di atas kapal perang Amerika,” ujar Rezaei.
Ia menyebut rudal tersebut sebagai senjata khusus yang mampu memberikan tekanan besar terhadap pasukan AS. Namun, Rezaei tidak mengungkap nama kapal maupun lokasi pengujian.
Klaim tersebut belum disertai rincian independen mengenai jenis rudal, sasaran, maupun hasil pengujian.
Iran Bantah Blokade AS Picu Kelaparan
Rezaei juga membantah klaim bahwa blokade ekonomi Amerika Serikat telah menyebabkan kelaparan meluas di Iran.
“Klaim bahwa blokade ekonomi AS menyebabkan kelaparan besar di Iran adalah kebohongan besar,” kata Rezaei kepada penyiar pemerintah Iran IRIB.
Ia mengatakan pemerintah Iran telah menyiapkan persediaan makanan dan kebutuhan pokok untuk menghadapi tekanan ekonomi.
Ketegangan Iran-AS Terus Meningkat
Ketegangan di kawasan meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap Israel serta sejumlah kepentingan AS di kawasan.
Iran dan AS pada Juni juga menandatangani nota kesepahaman yang mendapat mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan itu memuat sejumlah langkah untuk menghentikan permusuhan, membuka kembali Selat Hormuz, serta menangani pembatasan ekonomi.
Namun, kedua pihak kemudian saling menuduh tidak menjalankan komitmen dalam kesepakatan tersebut. Ketegangan militer pun tetap berlangsung, terutama terkait sanksi ekonomi dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Rencana Iran menetapkan zona maritim terbatas baru berpotensi menambah tekanan terhadap jalur pelayaran di Teluk. Jika Iran benar-benar memberlakukan pembatasan tersebut, aktivitas kapal dan arus perdagangan melalui kawasan strategis itu dapat menghadapi ketidakpastian yang lebih besar.
(Rls/Red)
