Faktara.my.id | Jakarta – Jakarta Public Service (JPS) meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat kajian fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WTE) di Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, Jakarta Utara.
Direktur Eksekutif JPS M Syaiful Jihad mengatakan Pemprov DKI perlu melakukan kajian secara menyeluruh sebelum mengoperasikan fasilitas tersebut. Kajian harus mencakup aspek lingkungan, teknologi, kesehatan masyarakat, hingga pengelolaan residu.
“Pemprov DKI Jakarta perlu melakukan kajian mendalam sebelum fasilitas WTE dioperasikan, terutama terkait aspek lingkungan, teknologi, kesehatan masyarakat, serta pengelolaan residu hasil pengolahan sampah,” kata Syaiful di Jakarta, Sabtu.
Pengalaman RDF Rorotan Jadi Evaluasi
Syaiful mengatakan Pemprov DKI dapat menjadikan pengoperasian RDF Plant Rorotan sebagai bahan evaluasi dalam menyiapkan ITF Sunter.
Menurutnya, persoalan lingkungan dan keluhan masyarakat yang muncul di sekitar fasilitas tersebut menunjukkan pentingnya pengendalian dampak sejak tahap perencanaan.
Ia meminta pemerintah melakukan analisis dampak lingkungan secara komprehensif dan terbuka agar fasilitas pengolahan sampah tidak memunculkan persoalan baru.
Dampak Lingkungan Harus Diperhitungkan
Syaiful menilai kajian WTE tidak cukup hanya menghitung kapasitas pengolahan sampah dan produksi listrik.
Pemprov DKI juga perlu menghitung dampak terhadap kualitas udara, air, tanah, lalu lintas pengangkutan sampah, serta kondisi sosial masyarakat di sekitar fasilitas.
Ia menyebut Pemprov DKI sebelumnya telah melakukan sejumlah langkah pengendalian dampak di RDF Plant Rorotan, termasuk memperkuat sistem pengendalian emisi dan menambah perangkat penetral bau.
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga menggunakan truk compactor tertutup untuk mengurangi potensi bau dan ceceran air lindi selama pengangkutan sampah.
ITF Sunter Berkapasitas 2.200 Ton
ITF Sunter dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 2.200 ton sampah per hari dengan teknologi WTE.
Fasilitas tersebut diproyeksikan mengubah sampah menjadi energi listrik sekaligus mengurangi volume sampah secara signifikan.
Pemprov DKI menyebut ITF Sunter berpotensi mereduksi volume sampah lebih dari 80 persen dan menghasilkan listrik hingga 35 megawatt (MW). Nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp5,3 triliun.
Dengan kapasitas tersebut, ITF Sunter secara teoritis dapat menangani sekitar 27-29 persen dari timbulan sampah Jakarta yang mencapai 7.700-8.000 ton per hari.
WTE Bukan Satu-satunya Solusi
Syaiful menilai ITF Sunter dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah Jakarta. Namun, fasilitas itu tidak bisa menjadi satu-satunya solusi.
Ia meminta pembangunan WTE berjalan beriringan dengan kebijakan pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber.
Menurutnya, volume sampah Jakarta yang masih tinggi membutuhkan penanganan di luar pola pembuangan ke tempat pemrosesan akhir.
Timbunan Bantar Gebang Capai 55 Juta Ton
Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta, Jakarta menghasilkan sekitar 7.700-8.000 ton sampah per hari.
Sementara itu, timbunan sampah di TPST Bantar Gebang telah mencapai sekitar 55 juta ton.
Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap fasilitas pengolahan sampah yang dapat mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan energi.
Syaiful mendukung rencana Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk merealisasikan fasilitas WTE. Namun, ia meminta pemerintah tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan transparansi.
Pemprov DKI juga perlu melibatkan masyarakat serta memastikan seluruh standar lingkungan dan pengendalian emisi terpenuhi sebelum fasilitas beroperasi.
JPS berharap WTE Sunter tidak sekadar menjadi proyek infrastruktur, tetapi menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah Jakarta yang berkelanjutan.
(Rls/Ramdan)
