Faktara.my.id | Gyirong – Tanah longsor dahsyat yang menerjang perbatasan China-Nepal pada Rabu (26/8) dipicu runtuhnya gletser di dataran tinggi Nepal. Bencana yang menerjang Pelabuhan Gyirong itu menewaskan lima orang dan membuat 558 orang masih hilang hingga Jumat (28/8).
Para ahli menilai pemanasan global turut meningkatkan risiko bencana glasial di kawasan dataran tinggi.
Citra satelit dan analisis geologi China menunjukkan gletser di ketinggian sekitar 5.200 hingga 5.400 meter mengalami keretakan sebelum runtuh.
Direktur Institut Bahaya dan Lingkungan Pegunungan di bawah Chinese Academy of Sciences (CAS), Kang Shichang, mengatakan gletser tersebut membawa puing batuan dan membentuk aliran material menuju kawasan hilir.
Akademisi CAS Yao Tandong menyebut peristiwa itu sebagai rangkaian bencana. Es dan batuan bergerak mengikuti alur sungai pegunungan, lalu mengumpulkan material dan momentum saat meluncur ke bawah.
“Semakin jauh meluncur ke hilir, semakin besar daya rusaknya dan semakin nyata pula risiko sekundernya,” kata Yao.
Ahli Kementerian Sumber Daya Alam China Guo Zhaocheng menjelaskan rangkaian bencana itu berkembang dari longsoran es di dataran tinggi menjadi aliran puing berkecepatan tinggi dan tanah longsor.
Longsor Melaju Sangat Cepat
Ahli CAS Ouyang Chaojun menyebut tiga faktor utama memperparah bencana. Longsoran awal memiliki skala besar dan berasal dari ketinggian ekstrem. Material kemudian berubah menjadi aliran puing yang bergerak cepat dan membawa volume besar.
Kawasan sekitar pelabuhan juga memiliki banyak penduduk dan bangunan di area datar dekat sungai. Kondisi tersebut meningkatkan paparan warga terhadap aliran material.
Guo memperkirakan longsoran hanya membutuhkan sekitar tujuh menit untuk bergerak dari lokasi awal hingga mencapai pelabuhan.
Aliran puing juga melaju sekitar 50 meter per detik. Kecepatan tersebut membuat warga hampir tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.
Lumpur Capai 1,5 Meter
Menurut laporan Xinhua dari lokasi, lumpur di area inti bencana mencapai kedalaman lebih dari 1,5 meter. Kondisi itu menyulitkan tim penyelamat mencari korban yang kemungkinan terjebak.
Pelabuhan Gyirong menjadi salah satu jalur utama perdagangan darat China-Nepal. Aktivitas perdagangan dan kepadatan penduduk membuat kawasan tersebut memiliki risiko tinggi ketika bencana menerjang.
Longsor juga terjadi pada jam kerja siang hari ketika banyak orang beraktivitas di pelabuhan.
Pemanasan Global Tingkatkan Risiko
Para ilmuwan mengaitkan meningkatnya risiko bencana glasial dengan pemanasan global. Dataran Tinggi Qinghai-Tibet dan wilayah sekitarnya menjadi salah satu kawasan gletser terbesar di dunia dan mendapat julukan “Kutub Ketiga” Bumi.
Bencana serupa pernah terjadi di kawasan dataran tinggi pada 2016 dan di wilayah pegunungan India pada 2021.
Kang mengatakan kenaikan suhu membuat gletser terus menyusut dan semakin tidak stabil. Kondisi tersebut meningkatkan sensitivitas gletser terhadap gangguan dan memperbesar potensi bencana berantai.
Ia menilai pengurangan emisi gas rumah kaca dan pengendalian pemanasan global menjadi langkah utama untuk menjaga gletser dalam jangka panjang.
Bencana di perbatasan China-Nepal menunjukkan besarnya risiko ketika runtuhnya gletser memicu rangkaian bencana di wilayah hilir. Para ahli menilai perubahan iklim dapat memperbesar frekuensi dan dampak bencana serupa sehingga upaya mitigasi dan pengurangan emisi menjadi semakin penting.
(Rls/Red)
