Faktara.my.id | Surabaya – Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, menghormati keputusan Muktamar ke-35 NU yang menetapkan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Ketua Umum PBNU.
Gus Rozin menilai keputusan tersebut mencerminkan tradisi musyawarah yang menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi NU.
Gus Rozin mengapresiasi peserta Muktamar ke-35 NU yang menjalankan proses pembahasan dan pengambilan keputusan.
“Ini merupakan keputusan Muktamar yang harus kita hormati bersama. Saya menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada seluruh muktamirin yang telah menjalankan proses ini dengan penuh tanggung jawab,” ujar Gus Rozin di Surabaya, Minggu.
Peserta Muktamar sebelumnya menyetujui perubahan mekanisme pemilihan dari sistem one man one vote menjadi AHWA.
Peserta mengambil keputusan tersebut melalui pemungutan suara setelah Komisi Organisasi belum mencapai kesepakatan.
Tetap Buka Ruang Demokrasi
Gus Rozin mengatakan NU memiliki tradisi demokrasi yang tidak hanya mengandalkan pemilihan langsung. Menurutnya, musyawarah, mufakat, dan penghormatan terhadap keputusan forum juga menjadi bagian dari demokrasi di tubuh NU.
Ia menilai perubahan mekanisme pemilihan tidak bisa hanya dilihat dari sisi teknis. Proses musyawarah yang melahirkan keputusan juga harus mendapat penghormatan.
“Bagi saya, yang paling penting adalah bagaimana keputusan ini kita terima bersama dan kemudian kita jalankan dengan penuh tanggung jawab,” katanya.
Lima Calon Masuk Tahap AHWA
Mekanisme baru tetap memberi ruang kepada peserta Muktamar untuk menjaring calon Ketua Umum PBNU.
Peserta Muktamar akan memilih maksimal lima nama calon yang memenuhi persyaratan. Lima kandidat dengan suara terbanyak kemudian masuk tahap pemilihan melalui mekanisme AHWA.
“Cabang dan wilayah tetap memiliki kewenangan untuk ikut menentukan lima nama calon. Jadi, menurut saya, ini bukan mencederai nilai-nilai demokrasi. Ada mekanisme representasi dan musyawarah yang tetap berjalan,” ujar Gus Rozin.
Utamakan Persatuan NU
Gus Rozin mengajak warga NU tidak lagi memperdebatkan mekanisme pemilihan setelah Muktamar mengambil keputusan. Ia meminta seluruh pihak fokus menjaga kelancaran rangkaian Muktamar dan memilih pemimpin yang mampu membawa NU menghadapi berbagai tantangan.
Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan hal wajar dalam organisasi besar. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh merusak persaudaraan antarnahdliyin.
Gus Rozin juga menilai Muktamar bukan sekadar forum memilih Ketua Umum PBNU. Forum tersebut menjadi momentum silaturahmi dan konsolidasi seluruh elemen NU.
Gus Rozin mengajak seluruh pihak menempatkan kontestasi kepemimpinan dalam semangat khidmah, ukhuwah nahdliyah, persatuan, dan kemaslahatan umat.
“Siapa pun yang nantinya mendapatkan amanah, yang harus kita kedepankan adalah kebesaran NU, kepentingan jamaah dan jamiyyah dan kemaslahatan umat. Kita harus tetap bersama-sama menjaga persatuan dan ukhuwah nahdliyah,” katanya.
(Rls/Red)
