Faktara.my.id | Kalimantan Barat – Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Kalimantan Barat 2026 mendadak menjadi sorotan publik setelah tayangan perlombaan tersebut viral di media sosial. Ajang yang digelar pada Sabtu, 9 Mei 2026, dan disiarkan melalui akun YouTube resmi Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia itu menuai kontroversi akibat keputusan dewan juri yang dianggap tidak objektif oleh banyak penonton.
Perdebatan bermula usai sejumlah momen penilaian dalam babak final dinilai janggal dan memicu protes dari warganet. Potongan video dari siaran tersebut pun cepat menyebar di berbagai platform media sosial hingga memancing beragam komentar dari publik.
Dilansir Instagram @smansaptk.informasi, Sehubungan dengan anjuran untuk menyaksikan tayangan ulang sebagai bentuk ikhtiar dalam mengonfirmasi jalannya pelaksanaan LCC 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat, kami telah melakukan peninjauan kembali secara cermat.
Berdasarkan hasil tersebut, kami menemukan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dan klarifikasi, yaitu:
1. Adanya kesamaan substansi jawaban antara tim SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas, namun dewan juri memberikan pembenaran hanya kepada salah satu pihak tanpa penjelasan yang transparan.
2. Kurangnya fokus dewan juri dalam beberapa momen penilaian, yang berpotensi memengaruhi objektivitas hasil.
3. Adanya indikasi penggunaan relasi kuasa oleh dewan juri, tanpa didahului proses konfirmasi dan klarifikasi yang memadai. Hal ini diperkuat dengan adanya validasi sepihak melalui MC mengenai kompetensi juri, sehingga kegiatan tetap dilanjutkan tanpa penyelesaian yang proporsional. Minggu (10/5/2026).
Kekecewaan peserta dan pendukung semakin memuncak setelah protes yang diajukan tidak mendapat tanggapan sesuai harapan.
Dewan juri tetap bersikeras bahwa keputusan yang diambil bersifat final, meski banyak pihak menilai terdapat kejanggalan dalam proses penilaian.
Tak hanya itu, ucapan pembawa acara yang menyebut, “mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja”, turut menuai sorotan. Pernyataan tersebut dianggap semakin memperkeruh suasana dan terkesan mengabaikan keberatan yang disampaikan para peserta di tengah kompetisi yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas dan keadilan.
(Rls/Red)
