Faktara.my.id | Jakarta – Telur dengan cangkang retak tidak selalu harus dibuang. Namun, keamanan telur bergantung pada waktu retaknya cangkang dan kondisi telur setelah mengalami kerusakan.
Pakar keamanan pangan Vanessa Coffman mengatakan konsumen sebaiknya membuang telur yang sudah retak sebelum dibeli karena bakteri dapat masuk melalui cangkang yang rusak.
Coffman menyarankan konsumen tidak membeli telur yang sudah retak di dalam kemasan. Retakan dapat menjadi celah masuknya bakteri, termasuk Salmonella.
“Jika retakan terjadi sebelum Anda membawa telur pulang, sebaiknya buang telur tersebut atau jangan membeli kartonnya,” kata Coffman seperti dikutip dari Health, Minggu.
Sebaliknya, konsumen masih dapat menggunakan telur yang baru retak saat membawanya pulang atau ketika menanganinya di rumah. Namun, konsumen harus segera memasaknya hingga matang.
Jika telur retak dan mengeluarkan isi, konsumen sebaiknya langsung membuangnya.
Simpan Telur Retak dengan Benar
Coffman mengatakan konsumen dapat memecahkan telur yang baru retak ke dalam wadah bersih. Setelah itu, tutup rapat wadah dan simpan telur di lemari pendingin.
Telur tersebut sebaiknya digunakan dalam waktu maksimal dua hari.
Retakan pada cangkang dapat membuka jalan bagi bakteri Salmonella. Bakteri tersebut dapat menyebabkan keracunan makanan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Masak Telur hingga Matang
Coffman mengatakan telur yang retak saat direbus umumnya masih aman jika telur sebelumnya bersih dan segar. Konsumen harus memasaknya hingga mencapai suhu sekitar 71 derajat Celsius.
Sebaliknya, telur setengah matang memiliki risiko lebih tinggi karena bagian kuning telur mungkin belum mencapai suhu aman.
Jangan Andalkan Uji Apung
Bau dan tampilan telur dapat menjadi petunjuk tambahan untuk menilai kondisinya. Namun, konsumen tidak dapat mengandalkan uji apung sebagai penentu telur masih layak atau tidak.
Ahli gizi Amy Woodman mengatakan telur yang masih baik umumnya memiliki putih telur jernih dan kuning telur berwarna kuning.
Putih telur yang lebih encer atau kuning telur yang lebih pipih dapat muncul karena telur bertambah usia. Perubahan tersebut tidak selalu menandakan telur sudah rusak.
Konsumen sebaiknya membuang telur yang sudah lama retak atau mengalami kebocoran. Langkah tersebut dapat membantu mencegah kontaminasi bakteri dan mengurangi risiko keracunan makanan.
(Rls/Red)
