Faktara.my.id | Yogyakarta – Timbul (49), seorang tukang becak asal Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merasa cemas setelah anaknya diterima di perguruan tinggi. Bagaimana tidak, desil kesejahteraan sosial Timbul mendadak berubah dari desil 1 menjadi desil 9.
Kondisi ini berdampak pada akses program bantuan, termasuk biaya pendidikan bagi anaknya. Air mata Lutfi Arya Wijaya (18), anak Timbul nyaris tumpah setelah tahu biaya kuliah akan menjadi beban bagi ayahnya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak di Malioboro itu.
Setelah lulus SMK, Lutfi diterima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), jurusan mesin. “Anak sambat mau kuliah. Tapi saya tukang becak, masuk Desil 9. Anak nangis karena sudah telanjur daftar,” kata Timbul, Senin (24/8/2026).
Sejak sekolah, Lutfi sudah tahu kondisi ayahnya. Uang saku sekitar Rp20.000 sehari tidak dihabiskan untuk jajan. Sebagian disisihkan untuk ditabung. Di sisi lain, Timbul berkomitmen agar kuliah anaknya tetap jalan. Ia tak ingin anaknya menjadi tukang becak sama sepertinya.
Ia ingin agar Lutfi memiliki pilihan hidup yang lebih luas. Soal biaya, Timbul akan memikirkannya sambil terus menarik becak.
Status Desil Lebih Tinggi dari Lurah
Timbul bercerita, perubahan status dari desil 1 ke desil 9 itu terjadi tanpa pemberitahuan. Ia pun mempertanyakan apakah penetapan itu benar-benar telah menggambarkan kondisi kesejahteraan keluarganya. Jika melihat kondisi tempat tinggal, Timbul mengaku rumah yang ditempati memang berdinding dan sebagian sudah keramik. Namun, rumah itu masih atas nama tujuh keluarga, bukan milik Timbul. Timbul juga memiliki sepeda motor. Namun, menurutnya kendaraan bukan tanda hidup berkecukupan.
Motor tersebut digunakan untuk perjalanan dari Lendah ke Yogyakarta. Sementara becak mesinnya ditinggal di Bantul.
Alasannya, jika becak dibawa pulang-pergi ke Kulon Progo, bahan bakar yang harus dikeluarkan semakin banyak. Ban pun lebih cepat haus.
Beberapa bulan sebelumnya, Timbul masih menerima bantuan berupa beras, minyak goreng, dan uang tunai.
Kini ia tidak tahu apakah bantuan tersebut masih akan diterimanya setelah status kesejahteraannya berubah menjadi Desil 9.
Bahkan, lebih tinggi daripada status desil Lurah Ngentakrejo yang berada di desil 8. Timbul kini berusaha meminta bantuan kepada pemerintah desa untuk mengurus perubahan desil.
Penghasilan Tak Menentu
Bagi Timbul, bantuan pemerintah selama ini menjadi salah satu penopang kehidupan keluarganya. Sebab, penghasilannya sebagai tukang becak tidak menentu.
Setiap pagi, Timbul berangkat dari Lendah menuju Malioboro.
Sebelum menarik becak, ia setidaknya harus memiliki Rp 50.000 untuk bekal ongkos dan makan. Selebihnya, ia berharap dari penumpang. Saat akhir pekan, penghasilannya berkisar Rp 100.000 hingga Rp 300.000. Sementara pada Senin hingga Jumat, penumpang bisa sangat minim, bahkan tidak ada.
“Jadi hasil tidak bisa dihitung,” katanya. Dari uang yang tidak pasti itu, Timbul harus membagi untuk kebutuhan rumah dan pendidikan anak.
Pemkab Turun Tangan
Kondisi Timbul dan Lutfi menjadi perhatian Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko.
Ia mengatakan, pemerintah daerah tidak ingin ada warga, terutama anak, yang terpaksa berhenti sekolah karena persoalan ekonomi.
Menurut Ambar, perubahan desil keluarga Timbul akan dikoordinasikan dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memastikan kembali kesesuaiannya dengan kondisi keluarga di lapangan. Pemerintah daerah juga akan melibatkan pemerintah kalurahan, kapanewon, hingga dinas terkait agar data yang digunakan benar-benar sesuai dengan kondisi warga.
“Data itu harus sinkron dan pasti, sesuai fakta dan kenyataan di lapangan,” kata Ambar saat mengunjungi rumah Timbul.
Ambar menegaskan, keputusan terkait data kesejahteraan tidak semestinya hanya mengandalkan data administratif.
(Rls/Red)
