Faktara.my.id | Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung gerakan tangkap ikan sapu-sapu di Jalan Janur Elok VI Blok QD9, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).
Terpantau di lokasi, Pramono tiba sekitar pukul 07.30 WIB mengenakan celana panjang, sepatu hitam, serta jaket berwarna merah putih
Ia didampingi Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI Haeru Rahayu, Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok, Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat, serta Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut Mayjen Harry Indarto.
Awalnya, Pramono mengamati kegiatan dari sisi kiri sungai.
Lalu, ia bersama rombongan turun dan berdiri di atas kubus apung. Pramono tampak tidak ikut masuk ke dalam sungai.
Dari atas, Pramono memantau petugas PPSU, Pasukan Biru Dinas Sumber Daya Air (SDA), serta anggota TNI AL yang telah lebih dulu turun ke sungai untuk menangkap ikan sapu-sapu.
Tangannya tak henti menunjuk ke arah aliran sungai.
Sekitar 10 menit berselang, petugas menemukan seekor ikan sapu-sapu. Warga dan awak media yang hadir tampak riuh bertepuk tangan. Ikan tersebut kemudian diserahkan kepada Hasudungan sebelum akhirnya diberikan kepada Pramono.
Berbeda dengan Hasudungan yang mengambil ikan dengan tangan kosong, Pramono menggunakan sarung tangan berwarna orange saat memegang ikan tersebut. Setelah itu, ikan diangkat dan diperlihatkan kepada awak media.
“Yang besar ini betina,” ucap Pramono. Ia tampak kegirangan, terlihat dari ekspresi wajahnya yang tertawa saat menunjukkan hasil tangkapan tersebut. Tak lama kemudian, ikan dimasukkan ke dalam karung.
Dalam kesempatan itu, Pramono mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu kini mendominasi perairan di Jakarta hingga lebih dari 60 persen. “Ikan sapu-sapu ini sekarang mendominasi perairan yang ada di Jakarta. Dari hasil telaah dari Dinas KPKP diperkirakan di atas 60 persen lebih ikan sapu-sapu itu sekarang ada di Jakarta dan semua sebenarnya mungkin juga sudah di daerah-daerah lain,” ucap Pramono, Jumat (17/4)

Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang dapat mengancam keberlangsungan ikan lokal. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan ikan tersebut memakan telur ikan lain, terutama spesies endemik, sehingga ikan lokal sulit bertahan.
“Ikan ini sangat-sangat invasif, kemudian juga membuat ikan-ikan lain yang ada di tempat itu, terutama yang endemik lokal itu hampir semuanya kemudian tidak bisa survive karena memang telurnya dimakan,” katanya. Selain itu, Pramono juga mengungkapkan adanya kandungan residu berbahaya dalam tubuh ikan sapu-sapu.
Berdasarkan laporan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kadar residu dalam ikan tersebut rata-rata sudah di atas 0,3, yang dinilai berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi.
“Kalau itu kemudian dikonsumsi akan berbahaya dan kalau dibiarkan maka dia akan merusak karena selalu dalam membuat rumahnya itu dia menggerogoti dinding dan sebagainya,” ujar Pramono.
Gerakan tangkap ikan sapu-sapu dilakukan secara serentak di lima wilayah kota administrasi Jakarta, yakni Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat. Pramono memastikan ke depan kegiatan serupa akan dilakukan secara rutin dan diperluas, tidak hanya bersifat seremonial.
Selain itu, Pramono juga akan menugaskan petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) secara khusus untuk menangani persoalan ikan sapu-sapu di Jakarta.
“Nanti akan ada penugasan secara khusus PJLP yang menangani ikan sapu-sapu ini,” tutur Pramono.
(Rls/Agus Apriansyah)
