Faktara.my.id | Jakarta – Kementerian Perdagangan menurunkan Harga Patokan Ekspor (HPE) dan Harga Referensi (HR) emas untuk periode pertama Juni 2026. HPE emas turun 1,43 persen menjadi USD 148.396,49 per kilogram, sedangkan HR emas terkoreksi ke level USD 4.615,65 per troy ounce.
Kementerian Perdagangan menetapkan ketentuan Harga Patokan Ekspor (HPE) dan Harga Referensi (HR) produk pertambangan melalui Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) Nomor 1416 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar. Regulasi tersebut berlaku untuk periode 1–14 Juni 2026.
Melalui keputusan itu, pemerintah menetapkan besaran HPE dan HR sebagai acuan dalam pengenaan bea keluar terhadap sejumlah komoditas pertambangan. Ketentuan tersebut juga menjadi dasar bagi pelaku usaha dalam menjalankan aktivitas ekspor selama periode yang telah ditetapkan.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan harga emas terkoreksi 1,43 persen selama periode pengumpulan data. Penurunan tersebut dipicu oleh meningkatnya minat investor terhadap instrumen keuangan berbasis imbal hasil dibandingkan emas yang tidak memberikan pendapatan (non-yielding asset).
Dilansir liputan6.com, “Selama proses pengumpulan data, harga emas terkoreksi sebesar 1,43 persen. Selain dipengaruhi pergeseran preferensi investor ke instrumen berbasis imbal hasil, pasar emas memasuki fase konsolidasi yang mendorong terjadinya aksi ambil untung (profit-taking). Di sisi lain, arah kebijakan moneter global dan prospek ekonomi dunia turut memengaruhi pergerakan harga emas internasional,” ujar Tommy.
Tommy Andana mengatakan pemerintah menetapkan HPE dan HR emas berdasarkan data serta masukan teknis dari Kementerian ESDM yang mengacu pada perkembangan harga di pasar internasional. Sementara itu, pemerintah menggunakan publikasi London Bullion Market Association (LBMA) sebagai acuan harga emas.
Tommy menambahkan, pemerintah menetapkan HPE dan HR emas melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga dengan mempertimbangkan data, informasi, serta perkembangan pasar terkini yang dianalisis bersama sejumlah instansi terkait.
Prospek Harga Emas Dunia Sepekan
Survei emas mingguan Kitco menunjukkan para analis masih optimistis terhadap prospek harga emas dalam jangka pendek. Namun, pelaku pasar cenderung pesimistis menyusul pelemahan harga emas, meski logam mulia tersebut menguat pada akhir pekan lalu.
Pada pekan ini, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas dunia.
Mengutip Kitco, Senin, (1/6/2026), pekan lalu, 12 analis berpartisipasi dalam Survei Emas Kito. Sembilan analis atau 75% memperkirakan harga emas akan naik pekan ini. Sementara dua lainnya atau 17% dari total analis memprediksi, koreksi harga emas. Sedangkan analis yang tersisa mewakili 8% memprediksi harga emas konsolidasi.
Dalam jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 17 dari 39 responden atau 44 persen memperkirakan harga emas akan naik pekan ini. Sementara itu, 10 responden atau 26 persen memprediksi harga emas turun, sedangkan 12 responden lainnya atau 31 persen memperkirakan harga emas bergerak mendatar.
Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, mengatakan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memberikan sentimen positif bagi emas. Menurutnya, kondisi tersebut mengurangi potensi tekanan likuiditas yang berasal dari eksportir minyak maupun kebutuhan likuiditas sejumlah negara importir.
“Pergerakan harga emas di atas area US$ 4.585 akan meningkatkan sentimen secara teknikal,” kata dia.
(Rls/Red)
